Bidanku.com

Bidanku.com

Link to Bidanku.com

Kenali Metode Baru Mendisiplinkan Anak dengan Teknik "Time Out" dan Cara Menjalakannya

Posted: 16 Sep 2015 12:40 AM PDT

Bunda pernahkah anda mengalami dimana ketika anda mengasuh si kecil yang begitu aktif mereka sulit sekali untuk dikendalikan?

Apalagi saat si kecil sudah berulah, diberi peringatan diabaikan, dimarahi tidak didengar dan bahkan rasanya sulit memberi tahu anak-anak untuk tidak mengulangi kesalah tersebut.

Ya, kebanyakan orangtua atau khususnya terjadi dikalangan para ibu, dimana mereka merasa frustasi dan tidak tahu harus melakukan apa sewaktu anak-anak mereka berulah. Meskipun hati ini sudah mengatakan tidak untuk menggunakan kekerasan, namun pada kenyataannya sulit sekali mengontrol emosi dan alhasil tangan selalu saja ingin mencubit si kecil untuk mendisiplinkannya. Memang sulit rasanya mendisiplinkan anak yang sudah "sulit diatur" dan "dikendalikan". Jangankan dibuat untuk menuruti perintah kita, mengehentikan mereka saja rasanya amat kesulitan.

kenali metode time out untuk anak 1

Nah, ada sebuah metode pendisiplinan anak yang rupanya sudah cukup terkenal dan di gadang-gadang ampuh dalam menghadapi perilaku anak yang "sulit" diatur seperti kasus diatas. Metode ini seringkali disebut dengan metode "time out" atau yang dikenal dengan "sudut diam." Teknik pendisiplinan ini sudah banyak dipraktikan di negara Barat guna mengendalikan dan mengontrol anak-anak yang sudah sulit diatur. Bahkan teknik ini telah dipraktikan oleh pakar pengasuhan dan pendidikan anak dan rupanya berhasil. Jika anda pernah menyaksikan acara TV luar negeri dengan judul Nanny 911, teknik "time out" ini asalah salah satu tekhnik paling ampuh yang dipraktikan dalam acara reality show tersebut.

Adapun pengamplikasian tekhnik ini dapat diberlakukan apabila putra dan putri anda sudah berperilaku "tidak semestinya" yakni diluar batas. Seperti halnya melanggar peraturan, memberontak, membangkang, membuat onar, atau bahkan menyerang orangtua sewaktu diberikan nasihat atau bahkan ketika anak diberikan nasihat, respon yang mereka berikan berupa tindakan yang tak terduga seperti menjerit, mengangis, mengamuk dan bahkan menyerang dengan tiba-tiba. Anak-anak yang ada dalam masalah seperti ini tentunya dikategorikan sebagai anak yang "tidak biasa."

Teknik sudut diam atau "time out" ini dapat mulai di efektifkan pada anak ketika ia berusia 2 tahun ke atas. Sementara untuk anak berusia 2 tahun ke bawah, tentunya orangtua harus paham, bahwa anak-anak dibawah usia ini memiliki daya nalar yang terbatas dan tentunya jika anda menerapkan teknik ini, tidak akan ada efek yang bisa diberikan pada anak-anak karena mereka belum mengerti apa-apa.

Sementara itu, dari segi daya guna, untuk anak balita, hal ini lebih ditunjukan untuk menenangkan emosinya dan mengontrol tantrum mereka. Selain itu juga, sebagai penegasan dari orangtua bahwa hal atau perilaku yang dilakukan anak-anak bukanlah hal yang boleh mereka lakukan. Penegasan ini juga berlaku untuk memberikan sinyal bahwa anda sebagai orangtua menginginkan cara-cara yang baik dari anak-anak untuk mereka bisa menyampaikan keinginannya dengan lebih baik.

Selain itu, tekhnik "time out" juga dimaksudkan untuk melatih anak-anak dan membuat mereka belajar mengatur pikiran dan perasaan mereka sendiri, sampai mereka bisa mengungkapkannya dengan baik. Banyak pendapat yang menyatakan bahwa teknik "time out" merupakan perwujudan yang diberikan orangtua sebagai bentuk hukuman pada anak-anak. Namun sebenarnya, keliru. Jika kita kembalikan pada tujuan awal bahwa tehnik ini lebih ditunjukan pada pengaturan dan kontrol pada anak agar membuat mereka mampu melatih dan mengatur pikirannya. Maka dengan demikian, anak-anak akan dapat berlatih untuk bersabar dan mengerti konsep dari bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan.

Namun, sebelum memberlakukan aturan "time out" ini pada anak-anak, orangtua harus sedikitnya menjalin kesepakatan. Setidaknya, anak-anak perlu mengetahui bahwa orangtua tidak mentolelir segala perbuatan buruk yang mereka lakukan didalam rumah dan segala sesuatunya akan ada konsekuensi. Yang mana hal ini pun diharapkan agar anak-anak sedikitnya takut untuk melakukan perbuatan yang tidak tercela karena ada konsekuensi yang akan mereka hadapi sehingga aturan time out ini tidak terus-terusan mereka dapatkan.

Teknik time out ini umumnya dijalankan dengan menggunakan sudut ruangan bersih dan menempatkan anak pada sebuah kursi kecil seukuran tubuhnya. Yang mana kursi ini akan menjadi sudut diam mereka, dimana mereka bisa berdiam diri dan merenungkan kesalahannya. Adapun beberapa hal yang harus diperhatikan untuk menjalankan tekhnik time out ini adalah diantaranya:

1. Berikan Anak Peringatan Terlebih Dahulu

Menarik anak untuk duduk di kursi time out dan menempatkan mereka pada sudut diam, tentunya bukanlah hal yang bijak. Sebab seringkali anak-anak belum faham betul bahwa apa yang mereka lakukan adalah sebuah kesalahan. Jika anda langsung memutuskan menempatkan mereka pada sudut diam, hal ini tentu saja akan membuat mereka merasa diperlakukan tidak adil. Nah, jika hal ini terjadi, maka sebaiknya berikan mereka peringatan terlebih dahulu. Buat sedemikian mungkin bahwa anak memahami jika hal tersebut adalah hal yang tidak terpuji. Dari sini anda bisa mengidentifikasi bagaimana respon anak dan menentukan apa yang harus anda lakukan selanjutnya.

2. Terapkan Aturan Waktu 1 Menit Untuk Satu Tahun Umur Si Anak

Ketika anda mendapati kenakalan anak sudah begitu fatal dan sulit dikendalikan, anda lantas hendak menempatkan mereka pada sudut diam. Maka metode time out ini mulai bisa diberlakukan setelah anak usia berusia dua tahun sesuai dengan perhitungan umur mereka. Patokannya adalah 1 menit untuk satu tahun umur anak. Jika anak anda berusia 6 tahun, maka ketetapan waktu yang bisa anda berikan adalah 6 menit.

Tegaskan pada anak bahwa anda tidak akan terenyuh dengan rayuan atau bahkan pujian yang mereka sampaikan pada anda. Yang paling penting disini adalah menunjukan dengan tegas pada anak-anak bahwa anda akan lebih senang jika mereka dapat menyampaikan keinginannya dengan baik dan tenang dibandingkan dengan sikap yang "panas" dan tegang.

3. Ajak Anak Berbicara Setelah Time Out Selesai

Setelah anak selesai menjalankan time out, jangan biarkan mereka terus-terusan menangis atau duduk di kursi tersebut. Hampiri anak dan berikan mereka pelukan. Jelaskan pada mereka bahwa apa yang anda lakukan semata-mata demi kebaikan mereka dan demi mendisiplinkannya. Jelaskan juga jika anda tidak akan sampai hati melakukan hal ini jika anak-anak bersikap baik. Buat mereka mengerti bahwa anda menyayangi mereka dan menginginkan yang terbaik untuk mereka. Yang terpenting dari poin ini adalah buatlah anak anda menyadari bagaimana besarnya cinta anda terhadap mereka.

Dan setelah anak-anak menyelesaikan time out-nya, maka tidak ada alasan bagi orangtua untuk bersikap dingin pada mereka. Sebaliknya, rangkul mereka dan brikan ketenangan serta berikan terus nasihat pada anak dan buat mereka mengerti dengan baik.

Beberapa poin diatas hanyalah segelintir hal yang harus diperhatikan bagi anda yang menerapkan metode time out. Sekali lagi, metode ini hanya boleh dilakukan sebagai jalan akhir jika kenakalan anak-anak sudah berada dipuncaknya dan melewati batas. Selain itu, perhatikan ruangan yang digunakan untuk menjalankan sudut diam atau time out haruslah ruangan yang bersih, namun tertutup yang akan membuat anak jera dengan melakukan kesalahan tersebut sehingga tidak mengulanginya kembali.

Mendidik dan Melatih Anak Agar Beraktivitas Mandiri

Posted: 16 Sep 2015 12:40 AM PDT

Setiap orangtua yang memiliki buah hati yang masih kecil dirumah tentunya seringkali dibuat senang dan gemas dengan tingkah laku si kecil yang seringkali mengundang gelak tawa.

Apalagi saat si kecil mulai tumbuh menjadi seorang balita. Kemampuannya dalam belajar, bermain, berinterksi dan berlarian kesana kemari seringkali membuat orangtua terkejut dengan hal-hal baru yang baru saja mereka pelajari. Rasanya tidak ada hal yang lebih menyenangkan dibandingkan dengan menghabiskan waktu bersama dengan si buah hati.

Berlarian kesana kemari, bermain bersama dengan mainan barunya, atau bahkan berlenggak-lengkok genit dengan sepatu yang baru saja ibu belikan. Semua hal ini akan tentu saja membuat kita senang dan tak bisa membendung kasih sayang untuk mereka. Akan tetapi, rasanya semakin hari si kecil semakin aktif semua mainan kesayangan yang ada dikamarnya dikeluarkannya, hobinya berlarian kesana kemari juga semakin membuat kita mulai kerepotan menangani si kecil. Belum lagi, setiap saatnya ia harus ditemani oleh bunda. Beranjak sedikit saja, si kecil akan merengek dan menangis sejadi-jadinya karena ingin bersama dengan bunda. Padahal, si kecil sudah bisa bermain dan melakukan banyak halnya sendiri. Namun tetap saja, ia harus terus-terusan menempel di pundak bunda dan harus terus-terusan ditemani.

bantu anak mandiri

Nah jika sudah begini, sulit rasanya bagi bunda untuk melakukan tugas dan pekerjaan lainnya. Sementara pekerjaan rumah masih begitu menumpuk dan menunggu untuk dikerjakan. Hal ini tentunya akan membuat kita pusing dan tidak tahu harus berbuat apa. Tak jarang, kerena permintaan si kecil yang ingin terus ditemani, hampir setiap hari pekerjaan rumah dan pekerjaan lainnya menjadi keteteran.

Jika sudah begini, rasanya perlu dicari solusi lain agar mereka bisa tetap bermain dengan ceria. Sebab disamping itu, bunda juga bisa menyelesaikan tugas rumah dan tugas lainnya. Nah, solusi terbaik untuk mengatasi hal ini, jika bunda tak memiliki cukup dana untuk menyewa jasa pengasuh bayi, maka jalan satu-satunya adalah dengan melatih si balita agar bisa mandiri beraktivitas sendiri.

Ketika si kecil bersedia bermain sendirian sementara bunda memasak didapur dan menyelesaikan cucian yang menumpuk, maka hal ini akan menjadi keuntungan untuk bunda. Si kecil tetap bisa ceria bermain dan bunda pun bisa menyelesaikan tugas rumah tangga. Ketika tiba waktunya dan pekerjaan rumah tangga sudah selesai, maka bunda bisa kembali mengawasi si kecil dan bermain bersama dengan mereka lagi.

Namun tentunya, beberapa pertimbangan lain juga harus diperhatikan ya bund. Membiarkan anak-anak balita bermain sendiri sebetulnya memiliki resiko yang cukup tinggi. Akan tetapi, ketika bunda mampu mempertimbangkan dan meminimalisir resiko tersebut, maka keamanan dan keselamatan mereka akan terjaga dengan baik.

Nah, lantas seperti apa sih mengajarkan si kecil agar bisa mandiri dengan aktivitasnya. Maka kita simak beberapa tips dibawah ini.

1. Atur Tempat Permainan dan Perlengkapan Belajar Si Kecil

Biasanya si kecil yang seringkali meminta untuk terus-terusan ditemani oleh orang dewasa sewaktu mereka bermain dipengaruhi oleh ketidak mampuan mereka melakukan beberapa hal tertentu. Seperti menjangkau barang, menghapal lirik lagu, membimbing, mengusulkan permainan baru dan masih banyak lagi. Untuk itulah, agar si kecil bersedia melakukan aktivitasnya sendiri, maka usahakan agar bunda bisa menyediakan tempat mainan dan pelengkapan belajarnya pada tempat yang mudah mereka jangkau.

Dalam hal ini ketika bunda akan meninggalkan mereka untuk memasak didapur, maka sebaiknya sediakan sediakan segala perlengkapan mainan yang sering mereka mainkan, jika perlu jajarkan dilantai atau di tempat bermainan agar mereka lebih leluasa memainkannya dan tidak mengganggu bunda didapur karena meminta mengambilkan mainan yang baru.

2. Perhatikan Keselamatan

Meskipun meminta anak untuk mandiri, namun bukan berarti kita mengabaikan keselamatan si buah hati. Apalagi, ketika bunda akan meninggalkan mereka dalam jarak yang cukup jauh yang mana membuat bunda kesulitan mengawasi anak-anak. Sebaiknya, perhatikan segala hal yang bisa membahayakan anak. Jangan sampai anda mengabaikan satu hal yang bisa menempatkan anak pada bahaya. Jika rumah anda adalah rumah yang berlantai, maka sebaiknya jangan biarkan anak bermain di lantai atas. Sebaliknya, bawa anak di lantai bawah dan jangan membuka jendela atau pintu, apalagi jika rumah anda berada dipinggir jalan. Selain itu, sesekali jangan melewatkan untuk mengecek anak-anak saat mereka bermain meskipun sesaat.

3. Libatkan Anak dalam Aktivitas Kita

Melibatkan anak dalam menyelesaikan pekerjaan rumah tangga yang ibu lakukan adalah bagian dari pendidik untuk mereka. Daripada membiarkan anak untuk menonton televisi selagi anda sibuk mengerjakan tugas didapur, tidak ada salahnya mengikut sertakan anak-anak dalam hal ini. Misalkan, ketika anda hendak membuat kue di dapaur, maka mintalah anak untuk membantu memegang mesin mixer selagi ibu hendak mengangkat kue dalam oven atau mungkin meminta anak membantu mengolesi loyang dengan mentega.

Pekerjaan yang dilakukan oleh anak mungkin akan terlihat kurang rapih atau bahkan berantakan. Untuk itulah, orangtua harus pintar memilih dan menyeleksi pekerjaan yang sekiranya tidak akan menghancurkan tugas anda namun dengan tetap melibatkan mereka.

4. Sediakan Beberapa Pilihan Aktivitas Untuk Anak Setiap Harinya

Membiasakan anak untuk bermain sendiri dan mandiri dengan segala aktivitasnya dirumah, seringkali membuat mereka merasa cepat bosan karena hanya bermain seorang diri sementara ibu sibuk mengurus di dapur. Untuk itulah, untuk mencegah rasa bosan ini, sebaiknya ibu mencari dan mengatur beberapa pilihan aktivtas sehari-harinya yang bisa dilakukan oleh anak-anak. Seperti misalkan, jika hari tadi anak-anak sudah disibukan dengan kegiatan menggambar dan mewarnai. Esok harinya anda bisa menjadwalkan anak-anak untuk bermain dengan boneka kesayangannya atau belajar berhitung.

Yang terpenting adalah carilah permainan yang akan membuat anak bisa menikmatinya. Dengan demikian anda akan bisa lebih tenang mengerjakan pekerjaan rumah didapur tanpa sedikit-sedikit diusik oleh si kecil karena sudah mulai bosa dengan apa yang mereka kerjakan.

Mengajarkan anak agar mandiri mengerjakan aktitivasnya sendiri terutama dirumah, akan berguna untuk bunda. Selain bunda bisa lebih tenang mengerjakan tugas lain dirumah, hal ini juga melatih keberanian dan keterampilannya dalam mengeksplor segala halnya seorang diri. Untuk itu, beberapa tips diatas diharapkan bisa membantu bunda dalam mendidik buah hatinya dirumah.

Perhatikan! Jangan Lakukan Hal Ini Pada Anak Pasca Perceraian

Posted: 16 Sep 2015 12:40 AM PDT

Perceraian adalah sebuah akhir dari hubunag pernikahan.

Ketika sepasang suami istri dalam rumah tangga memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan rumah tangganya, maka mereka akan meminta pemerintah untuk memidahkan dan memutuskan hubungan pernikahan yang telah mereka bina. Kabar perceraian dalam rumah tangga dimana sepasang suami istri sudah memiliki anak, tentunya bukanlah kabar gembira. Sebuah perceraian dalam rumah tangga, bukan hanya akan memberikan dampak yang fatal pada pasangan tersebut, namun keluarga yang ada didalamnya pun akan ikut menderita dan merasakan dampak perpisahan tersebut, dalam hal ini terutama anak.

Perceraian yang dipilih oleh pasangan suami istri dalam sebuah rumah tangga tentunya tidak dipilih dengan sembarang dan bukanlah sesuatu yang didambakan oleh setiap pasangan. Tidak ada pasangan yang ingin berpisah, apalagi ketika rasa cinta dan kasih sayang mereka masih begitu besar terhadap pasangannya. Akan tetapi, ketika masalah dan berbagai polemik dalam rumah tangga sudah tidak ada lagi jalan penyelesaiannya, maka perceraian seringkali diambil sebagai jalan akhir untuk menyudahi pertengkaran dan perselisihan dalam rumah tangga.

jangan lakukan hal ini pada anak setelah bercerai 1

Meskipun dianggap sebagai cara yang bisa menyelesaikan masalah dan perselisihan dalam rumah tangga, akan tetapi tak bisa dipungkiri bahwa jauh didalam lubuk hati terdalam kita, merelakan pasangan yang dulu kita cintai dan kita sayangi untuk jauh dari kita adalah hal yang menyakitkan. Apalagi saat segala rutinitas dan kebiasaan kita harus dijalani tanpa kehadiran pasangan. Kalaupun kita dan pasangan tidak merasakan kesakitan tersebut, maka rasa kecewa dan sakit itu akan dirasakan oleh anak-anak. Merekalah yang akan akan menelan kepahitan dan dampak yang menyakitkan dari perpisahan ini.

Banyak anak yang membawa bekas luka dari "pertempuran" perceraian kedua orangtuanya hingga mereka dewasa. Luka yang tak pernah sembuh akibat menyaksikan keretakan rumah tangga ayah dan ibunya akan terus membayang-bayangi kehidupan si anak. Apalagi saat mereka menjadi bagian yang harus menyaksikan perselisihan dan pertengkaran sebelum sidang perceraian diputuskan. Hal ini akan semakin membuat mereka terpukul dan putus asa. Pada akhirnya, mental dan perkembangan anaklah yang akan terganggu.

Padahal seharusnya orangtua yang hendak atau telah bercerai menyadari betul bahwa ketika mereka dulu bertemu dengan cara yang baik-baik dan bersatu dengan jalan yang baik-baik, mengapa harus mengakhirinya dengan cara yang menyedihkan. Setiap pasangan yang menikah tentunya mencari sebuah kebahagiaan. Akan tetapi, jika pada prosesnya terlalu banyak halangan dan rintangan yang mereka alami dan tak kuat lagi untuk menahan beban yang sudah begitu besar, maka jalan terakhir yang diambil adalah perpisahan.

Nah, setelah perpisahan dengan pasangan, anda juga harus paham betul hal apa sajakah yang tidak sebaiknya disampaikan atau dilakukan pada si kecil yang mana hal-hal tersebut malah akan memancing masalah baru atau memberikan mereka tekanan yang lebih dahsyat. Hal apa sajakah itu? Mari kita simak berikut ini.

1. Jangan Jadikan Anak Sebagai "Jembatan Untuk Berkomunikasi"

Terkadang, setelah perpisahan yang menyakitkan bersama dengan pasangan, kita sering sekali merasa canggung bahkan enggan berbicara bersama dengan mantan pasangan. Yang mana pada akhirnya, kita akan melibatkan anak dalam hal ini. Membuat mereka seolah menjadi "jembatan anda untuk berkomunikasi" bersama dengan pasangan seringkali diambil sebagai alternatif. Akan tetapi menurut seorang ahli keluarga perceraian beranam M Gary Neuman mengungkapkan bahwa menjadikan anak-anak sebagai jembatan berkomunikasi bukanlah hal yang bijak.

Untuk itu, cari media yang lain yang bisa membuat anda menjalin komunikasi dengan mantan pasangan. Dalam hal ini seperti email, pesan singkat dan lain sebagainya. Meskipun terkadang anda merasa malas untuk kembali terhubung dengan mantan pasangan, namun ingatlah ia adalah orangtua anak anda sendiri.

2. Jangan Meminta Anak Membuat Pilihan

Perceraian dan perpisahan yang anda jalani bersama dengan pasangan, tidak berarti harus membuat anak-anak menentukan pilihannya dengan memilih salah satu antara anda dan pasangan. Meskipun anda dan pasangan tak lagi tinggal satu atap, namun jangan sampai anak-anak membuang salah satu "rumah" dalam hatinya. Bagaimanapun anak-anak harus diberikan kesempatan untuk dapat berbincang dan berkomunikasi dengan mantan pasangan anda. Jangan biarkan anak-anak kehilangan salah satunya dan membuat mereka kesepian.

Untuk anak-anak yang masih kecil, sebaiknya hak asuh ada pada ibu. Akan tetapi dalam hal ini bukan berarti ibu bisa berkuasa dan mengambil sepenuhnya hak asuh si kecil. Namun, tetap berikan mereka akses pada ayahnya untuk bisa menghabiskan waktu bersama ayah dan berkomunikasi dengannya.

3. Jangan Jadikan Anak Sebagai "Terapis"

Disadari atau tidak, orangtua yang bercerai seringkali menjadikan anak-anak mereka yang sudah beranjak remaja sebagai tempat untuk mencurahkan isi hati atau terapis bagi orangtuanya. Dan dalam masalah perceraian ini, anak-anak remaja memiliki kecenderungan untuk dapat memegang kendali agar bisa meyatukan kembali kedua orangtuanya. Akan tetapi, pilihan perceraian orangtua mereka telah membuat dunia mereka terbalik.

Untuk itulah, jangan karena anda merasa anak-anak sudah memahami betul perasaan anda, anda lantas menceritakan pada mereka secara rinci tentang perasaan anda terhadap pasangan. Sebab bukan menyelesaikan masalah, hal ini malah akan menimbulkan masalah baru baik pada anda maupun pada mantan pasangan anda.

4. Jangan Mendorong Anak Untuk Membicarakan Perceraian

Perpisahan yang anda alami bersama dengan pasangan bisa jadi menjadi aib untuk anak anda. Ketika teman-temannya tahu, bukan tidak mungkin anak akan menjadi bahan ejekan karena tidak punya ayah atau ibu akibat perpisahan tersebut. Nah, ketika anak mengeluhkan diejek oleh teman-temannya, anda lantas memita mereka untuk mengatakan hal yang sebenarnya pada teman-temannya.

Hal ini adalah hal yang keliru dan akan membuat anak semakin terpukul. Untuk itu, jangan pernah memaksa anak untuk mengatakan perceraian, apalagi saat anak tidak ingin. Memaksakan anak akan sesuatu hal yang tidak mereka inginkan hanya akan membentuk kebenciannya pada diri anda. Untuk itu, biarkan mereka dan berikan mereka ruang sedikit untuk menenangkan pikiran dan traumatiknya.

5. Memperbaiki Kesalahan yang Telah Anda Lakukan

Perpisahan memang hal yang menyakitkan. Namun bukan berarti hal ini tidak bisa dibuat menjadi lebih baik, khususnya dalam hal emosi anak-anak. Anak-anak adalah tipikal orang yang mudah memaafkan. Mereka mungkin kecewa dengan diri anda akibat perpisahan yang kita lakukan dengan pasangan. Akan tetapi, hal ini bukan berarti akan membuat mereka menyimpan dendam dan tidak bisa memaafkan anda.

Jika anda mau berusaha dan bersabar, perlahan namun pasti anak-anak akan dapat memahami anda dan memaafkan anda. Asalkan ada usaha dari kita untuk selalu meminta maaf pada mereka dan menjelaskan makna dan alasan dari perpisahan tersebut.

Proses perceraian atau pasca pereceraian akan membawa dampak yang menyakitkan, terutama dampak yang paling besar yang akan dirasakan adalah pada anak-anak. Untuk itu, mengetahui beberapa hal yang sebaiknya tidak dilakukan pada anak-anak setelah perceraian dengan pasangan adalah hal yang penting untuk menghindari masalah baru dan tekanan yang bisa dihadapi oleh anak-anak.

Tips Hebat Bantu Anak Atasi Perceraian Orangtuanya

Posted: 16 Sep 2015 12:39 AM PDT

Pernikahan dalam keluarga sejatinya adalah sebuah hubungan yang dijalin oleh sepasang suami dan istri yang saling mencintai dan mengasihi.

Hubungan dan jalinan cinta ini berbuah keluarga dan buah hati yang menjadi bukti cinta dari keduanya. Akan tetapi, kita pun tahu bahwa tidak ada hal yang abadi, begitupun dengan hubungan yang dijalin oleh sepasang suami istri. Ketika tak ada lagi kecocokan dan rasa sayang antara sepasang suami istri dan mereka tak lagi menemukan jalan lain, maka perceraian seringkali dijadikan jalan akhir untuk menyelesaikan masalah diantara keduanya. Perceraian memang diidentikan dengan hal yang tidak baik, ketika sepasang suami istri yang telah memiliki anak dalam keluarga bercerai, maka seluruh keluarga akan merasakan kesedihan yang mendalam, terutama anak-anak.

Ya, dampak terbesar dari perceraian akan mempengaruhi si anak yang tak berdosa. Meskipun perpisahan ini hanya dialami oleh orangtuanya, namun anak akan serta merta merasakan dampaknya. Penyangkalan, kemarahan atau menjadi anak yang berontak merupakan beberapa reksi yang bisa diluapkan anak sebagai bagian dari ungkapan kekecewaannya terhadap perceraian kedua orangtuanya. Akan tetapi, disatu sisi anda dan pasangan sudah tak lagi menemukan kecocokan sehingga jalan yang dianggap terbaik untuk mengatasi masalah dalam rumah tangga adalah dengan perpisahan bersama dengan pasangan. Nah, disinilah harus ada peran yang bisa membantu si anak agar mereka bisa menghadapi dan mengatasi kondisi terburuk dalam kehidupannya.

bantu anak atasi perceraian

Kita tentu paham betul, jika mental dan psikis anak yang masih begitu kecil belum siap untuk dihadapkan pada masalah yang sebesar ini. Belum lagi, perkembangan mereka akan terganggu, terutama perkembangannya dilingkungan masyarakat. Anak-anak yang lahir dari korban perceraian akan kesulitan untuk bisa terbuka dan bergaul dengan lingkungannya. Selain itu, mereka akan terus-terusan dibendungi dengan pertanyaan sewaktu melihat teman-temannya yang masih memiliki orangtua yang lengkap. Misalkan, ketika perceraian terjadi sebelum anak memasuki usia sekolah dan tiba saatnya untuk mereka pergi ke sekolah untuk pertama kalinya, mereka akan melihat jika teman-teman yang lainnya pergi bersama dengan ayah dan ibu mereka, sementara anak anda hanya bertemankan orangtua tunggal atau bahkan karena kesibukkan anda dalam bekerja anda lantas tak bisa membagi waktu dan melewatkan mengantar si kecil ke sekolah. Hal ini tentu saja, akan membuat kekecewaa mereka semakin besar. Pada akhirnya, mereka akan enggan pergi ke sekolah atau memberontak pada anda karena kenyataan pahit yang harus diterima si anak.

Nah, sebagai orangtua kita tentu tidak ingin jika hal ini terjadi bukan. Perpisahan dengan pasangan tidak harus membuat anak terus-terusan menjadi korban. Sebagaimana mengutip dari pendapat para ahli,  bahwa sebenarnya terdapat banyak usaha dan strategi pedekatan yag bisa dilakukan oleh orangtua terhadap anak-anak yang menjadi korban perceraian. Pendekatan ini tentunya dilakukan agar sebisa mungkin anak bisa menerima arti perpisahan yang dilakukan oleh orangtuanya dan menyembuhkan kekecewaan bahkan luka dalam hatinya.

Nah, berikut ini ada beberapa strategi pendekatan yang bisa dilakukan pada anak-anak yang menjadi korban perceraian agar bisa menerima perceraian kedua orangtuanya sebagai bentuk membantu anak-anak mengatasi dampak perceraian serta menghindari lahirnya anak-anak dengan mental yang berontak dan berwatak keras.

1. Jelaskan dengan Terbuka dan Penuh Kejujuran

Ketika perpisahan terjadi sewaktu anak-anak masih begitu kecil, mungkin terlalu dini rasanya untuk membuat mereka memahami makna perpisahan yang kita lakukan dengan pasangan. Akan tetapi, seiring dengan berjalannya waktu, anak akan tumbuh dewasa dan mulai sedikitnya bisa memahami apa yang terjadi di sekitar mereka. Untuk itulah, persiapkan diri anda dan buatlah perencanaan tentang bagaimana berlatih menyampaikan pada anak akan perpisahan anda dengan pasangan.

Nah, ketika anak sudah mulai beranjak besar, anda bisa menjelaskan pada mereka akan perpisahan anda serta bagaimana perceraian tersebut akan mempengaruhi hidup mereka selanjutnya. Para ahli menjelaskan, bahwa cara terbaik untuk menjelaskan sebuah masalah pada anak-anak termasuk masalah perceraian adalah dengan menyampaikan secara halus dan dijelaskan secara terbuka dengan penuh kejujuran.

Disadari atau tidak, anak-anak yang sudah mulai beranjak besar akan belajar dan menganalisa bahwa dampak perceraian akan membuat kehidupan mereka berbeda dengan anak lainnya. Untuk itulah, sebisa mungkin upayakan bahwa anak mengerti maksud dan alasan sebenarnya mengapa anda memilih berpisah sebagai jalan terakhir. Ketika anak mendapatkan alasan yang logis, maka setidaknya mereka bisa mempersiapkan diri dan mentalnya ketika dampak terburuk perceraian mereka alami.

2. Mintalah Pertolongan Kerabat atau Anggota Keluarga Untuk Mengawasi Anak-Anak

Sebagai orangtua tunggal yang mendidik dan menjaga anak-anak seorang diri tanpa bantuan dari pasangan setiap waktunya.  Anda mungkin akan sedikit kerepotan, apalagi ketika anda adalah seorang pekerja yang sibuk. Mungkin sedikit sulit bagi anda untuk bisa menyisihkan waktu untuk bisa mengasuh dan mengawasi anak-anak dengan sepenuhnya. Untuk itu, tidak ada salahnya meminta bantuan kerabat atau anggota keluarga anda yang kira-kira memiliki waktu luang seperti misalkan adik anda yang masih kuliah atau orangtua anda.

Hanya saja, tentunya anda bisa mempertimbangkan segala hal, ketika anda meminta bantuan orangtua anda seperti halnya ibu, sebaiknya mintalah pada waktu yang tepat, jangan sampai anda meminta ibu anda ketika ia memiliki urusan dirumah. Begitupun dengan adik anda, jangan sampai karena anda memintanya untuk menjaga si kecil, lantas mengganggu waktu kuliahnya. Usahakan sebisa mungkin agar baik keluarga maupun kerabat anda tidak merasa terganggu atau keberatan dititipi si kecil.

3. Buat Anak Tetap Merasa Sibuk

Cara terbaik untuk menjauhkan si kecil dari trauma atau kecemasan akibat perceraian adalah dengan membuat mereka tetap merasa sibuk. Dengan semakin banyak kegiatan atau hal yang mereka alami dalam kehidupannya, perhatian mereka akan teralihkan pada kegiatan yang menyita perhatiannya. Dengan begini anak-anak akan perlahan mulai melupakan kesedihan dan kekecewaannya. Untuk itu, selepas perceraian dengan pasangan, pastikan jika anda tidak hanya membiarkan si kecil sendiri dan merasakan kesepian dengan mengurungnya dikamar. Sebaliknya, ajaklah mereka untuk berlibur atau menemani anda pergi ke mall. Dengan begini, anak-anak akan merasa senang dan terhindari dari trauma yang mungkin mereka rasakan.

4. Kembalikan Atau Pulihkan Keadaan Pada Kondisi yang Normal

Selama proses perceraian mungkin ada banyak hal atau kegiatan yang biasanya sering dilakukan dalam keluarga dan tiba-tiba kegiatan ini menghilang atau dilupakan akibat perhatian anda dan pasanagn terfokus pada proses perpisahan. Namun tanpa kita sadari, hal tersebut akan semakin membuat anak merasa ditinggalkan dan kesepian.

Namun tidak, jika anda mampu membalikan keadaan pada kondisi yang normal dan melanjutkan rutinitas bersama dengan si kecil seolah tak terjadi apa-apa. Dengan begini anak-anak tidak akan terpengaruhi terlalu mendalam dan membuat mereka merasa sedih. Untuk itu, upayakan segala hal agar anda bisa memulihkan kondisi ini pada kondisi yang normal agar si kecil tidak terus-terusan terbebani dengan masalah kedua orangtuanya.

5. Tetaplah Jalin Hubungan

Setelah proses perpisahan dengan pasangan, hak asuh anak-anak biasanya akan dimiliki salah satu pihak. Dimana ketika hak asuh ini jatuh pada suami, maka istri akan memiliki batas untuk bisa bertemu dan berjumpa dengan si kecil, begitupun sebaliknya. Nah, hal inilah yang akan membuat salah satu pihak yang tidak memiliki hak asuh pada anak akan semakin kesulitan untuk bisa menghabiskan sebagian besar waktunya bersama dengan si kecil.

Pada akhirnya, perhatian dan kasih sayang pihak tersebut (pasangan yang tidak mendapatkan hak asuh) akan semakin berkurang. Alhasil, dampaknya akan dirasakan kembali oleh si kecil yang merindukan sosok tersebut. Nah, disinilah orangtuanya yang memiliki hak asuh terhadap anak sudah sepatutnya mendorong hubungan anak dengan mantan pasangan anda, karena bagaimanapun ia adalah orangtuanya sendiri.

Dampak perceraian terbesar dari sepasang suami istiri akan dirasakan oleh anak. Anak-anak yang menjadi korban perceraian bukan tidak mungkin akan melahirkan anak-anak yang pemberontak, murung dan bahkan pembangkang. Nah untuk itu, membantu anak menghadapi dan mengatasi dampak perceraian orangtunya diharapkan mampu menghindari lahirnya karakter diatas pada anak.

Title : Bidanku.com
Description : Bidanku.com Kenali Metode Baru Mendisiplinkan Anak dengan Teknik "Time Out" dan Cara Menjala...

0 Response to "Bidanku.com"

Posting Komentar