Bidanku.com

Bidanku.com

Link to Bidanku.com

Tips Agar Anak-Anak Tak Berebut Barang

Posted: 17 Sep 2015 11:02 PM PDT

Si adik dan si kakak adalah dua buah hati ibu yang tercinta.

Sewaktu akhir pekan, ketika semuanya berkumpul dirumah adalah kegiatan yang menyenangkan bisa bercengkrama dan berkumpul bersama dengan semua anggota keluarga. Apalagi, jarang sekali mendapatkan momen seperti ini ketika si ayah harus bekerja dan si kakak sudah mulai masuk sekolah dasar. Dirumah, ibu hanya ditinggal berdua bersama dengan si adik yang masih balita. Itulah mengapa, kegiatan berkumpul bersama-dama menjadi momen jarang yang sangat menggembirakan.

Akan tetapi, ketika si kakak dan si adik disatukan dalam sebuah ruangan dan bermain bersama, selalu ada saja perselisihan yang terjadi. Hal tersebut terjadi tak jarang karena disulut dengan saling berebut barang yang masing-masing bersih kukuh ingin memilikinya. Si kakak yang masih kecil dan si adik yang terlalu kecil, seringkali susah untuk mengatur mereka dan meminta salah satunya mengalah. Alhasil, rumah yang tadinya begitu hangat dengan kebersamaan, berubah menjadi kegaduhan dan pecah seketika dengan perselisihan keduanya.

agar anak tak berebut barang

Jika sudah begini, ibu dan ayah langsung mengusap kening dan menghela nafas seolah sudah terlalu sering dihadapkan pada kondisi demikian. Namun demikian, sebagai orangtua tentunya, kita tidak ingin jika si kakak dan si adik terus-terusan terjebak dalam perselisihan akan hal sepele. Alih-alih, nantinya akan sulit bagi orangtua mengajak serta kedua buah hatinya berpegian keluar rumah. Apalagi saat bertemu dengan sanak saudara atau teman-teman ayah dan ibu. Perkelahian anak-anak yang saling berebut barang akan tentu saja membuat kita merasa malu dan canggung dengan oranglain yang melihat sikap dua buah hati kita.

Anak-anak yang berebut barang atau mainan memang hal yang lumrah. Apalagi jika mengingat ego mereka ketika masih anak-anak masih begitu tinggi dan sikapnya masih meleda-ledak. Disamping itu, umumnya tindakan anak-anak sulit sekali diprediksi, sebentar dia menginginkan itu dan sebentar lagi anak-anak sudah menginginkan barang milik oranglain, termasuk milik saudaranya sendiri. Akan tetapi, jika sikap ini sudah tak lagi dapat dimaklumi dimana keduanya sudah berntindak diluar batas dengan menyakiti satu sama lain ketika berselisih dan berebut barang, maka perlu sekali tindakan orangtua untuk bisa menghentikan perbuatan anak-anak. Apalagi mereka berdua terikat dengan hubungan sedarah. Jangan sampai, sikap dan perilaku keduanya terbawa hingga mereka besar dan dewasa nanti, yang mana dikhawatirkan akan tumbuh persaingan dalam diri anak-anak dan membuat kebencian hadir dalam dirinya.

Adalah hal yang wajar, ketika si kakak dan si adik berebut barang, si adik kecil seringkali menangis dan berteriak, begitupun dengan si kakak. Akan tetapi, tak bijak jika ibu terus-terusan menyepelekan hal ini dengan tidak melakukan apa-apa. Orangtua perlu menjadi penengah dalam pertengkaran anak dan dituntut untuk bisa berlaku bijak menyikapi perselisihan ini.

Nah, agar ibu bisa mengatasi anak-anak yang seringkali berebut barang atau mainan. Kali ini kami akan berikan tips mudah agar mereka tak lagi berebut mainan dan tidak terjebak dalam perselisihan yang tiada akhirnya.

Bersikap Objektif Terhadap Anak-Anak

Ketika ibu mendapati anak-anak sedang berselisih karena berebut mainan, maka jangan lantas menyalahkan salah satu anak yang paling tua untuk mengalah dan membela si kecil dengan alasan adiknya masih begitu kecil untuk memahami semua itu. Sebaiknya, tanyakan terlebih dahulu pangkal permasalahannya pada salah satu. Dan tanyakan pada yang lain apakah benar demikian atau tidak.

Dari sinilah anda akan tahu apa yang harus anda lakukan selanjutnya. Jika barang tersebut memanglah milik si kakak, maka mintalah anak anda yang paling kecil untuk memberikan pada kakaknya. Setelah itu, ajak anak yang paling kecil untuk ikut bersama anda. Dari sini, anda bisa memberikan pengertian pada anak anda yang masih kecil, bahwa mereka harus belajar menghargai milik oranglain. Hal ini tentunya bukan hanya berlaku saat anak menggunakan atau berusaha mengambil barang si kakak saja, namun juga barang-barang miliki orang lain.

Jangan Memaksa

Ketika anak bermain dengan teman-temannya atau saudaranya, sebaiknya jangan pernah memaksa anak untuk membagi semua yang ia miliki. Biarkan anak memilih sendiri mainan atau barang mana yang ingin ia mainkan bersama dengan oranglain. Dengan begini, anak juga akan belajar bahwa tidak semua hal bisa ia bagi dengan orang lain. Selain itu, ketika anak mengikuti nalurinya sendiri untuk dapat memilih apa yang boleh ia bagi, maka ia akan dapat memberikannya dengan lebih lapang dada. Sehingga tidak ada alasan untuknya bisa merebut barang tersebut secara paksa dari teman atau saudaranya.

Berikan Aturan yang Tegas Pada Anak

Salah satu cara untuk menghindari perselisahan karena berebut barang pada anak adalah dengan memberikan atau memberlakukan aturan yang tegas pada anak-anak. Hanya saja, tentunya aturan tersebut sesuai dengan usia anak. Jangan sampai anda memberlakukan aturan yang tagas dengan sanksi yang kejam seperti memukul anak, mengurung anak dan lain sebagainya. Yang terpenting dari poin ini adalah membuat anak jera atau merasa takut merebut barang milik oranglain karena anda telah membuat kesepakatan sebelumnya dengan si kecil. Dengan demikian, perselisihan dan pertengkaran pada anak bisa dihindari.

Tunjukan Sikap Pengertian

Ketika anak mengadukan teman atau saudaranya merebut mainan sendiri atau mereka tidak ingin berbagi dengan anak anda, anda lantas mengatakan "Sudah, biarkan saja." Kata-kata ini justru akan lebih menunjukan bahwa anak juga diajarkan untuk mengabaikan perasaan dan keinginannya untuk memainkan sebuah barang.

Untuk itu, sebaiknya tanggapi curahan hati anak dan tanyakan dulu pada temannya mengapa ia tidak ingin berbagi permainan tersebut atau mengapa ia merebut mainannya. Dengan begini, anak-anak akan merasa dihargai dan diperhatikan.

Ajak Anak Bersosialisasi

Teori mengajarkan anak agar mau berbagi tidak hanya cukup membuat anak mengerti. Pada akhirnya, anak-anak pun akan membutuhkan praktek yang jelas yang akan membuatnya mengalami hal tersebut. Untuk itulah, ibu bisa mengajak anak bersosialisasi dengan lingkungan bermain anak yang baru dimana didalamnya terdapat anak-anak sesuai dengan anak anda, seperti misalkan playgroup atau taman kanak-kanak. Disini anak-anak akan langsung mengalami sendiri bagaimana berbagi dan tidak saling berebut. Mintalah anak-anak untuk bisa berbagi dengan teman dan sahabat-sahabatnya agar mereka bisa bermain bersama dan menikmati hari-harinya.

Berikan Contoh yang Baik

Dalam segala hal orangtua adalah figur yang akan senantiasa ditiru oleh anak-anaknya. Baik dalam segi perilaku maupun sifat. Untuk itulah, orangtua harus mampu memberikan contoh yang baik dan menjadi tauladan untuk anak-anaknya. Ketika anda menginginkan anak-anak tidak selalu berebut barang atau mainan dengan teman-teman dan saudaranya, maka ajarkan pula konsep berbagi dengan dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begini, anak-anak secara tidak langsung aka menyerap dan mempraktikan apa yang mereka lihat dari kedua orangtuanya.

Dunia anak adalah dunia bermain yang dihiasi dengan keceriaan. Akan tetapi, ketika keceriaannya terenggut karena sikap anak-anak saling berebut barang, tentu saja hal ini akan membuat kita kewalahan menghadapi anak-anak. Nah, beberapa tips diatas diharapkan mampu membantu ibu mendapatkan solusi agar anak-anaknya tak selalu berebut barang dengan saudara atau teman-temannya.

Jadi Orangtua Pintar, Kenali Beberapa Anggapan Keliru Anak Pada Pola Asuh Orangtua

Posted: 17 Sep 2015 11:02 PM PDT

Sebagai orangtua, sudah tentu kita ingin memberikan yang terbaik untuk buah hati kita.

Tidak ada orangtua yang rela jika buah hati yang telah dengan susah payah mereka lahirkan kedunia tidak mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang besar dari kedua orangtuanya. Untuk itulah, orangtua akan dengan rela mengusahakan segala cara dan upaya untuk bisa memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Tak peduli susah, tak menghiraukan kesulitan, dan mengabaikan rasa letih adalah pengorbanan besar yang diberikan orangtua sebagai wujud kasih sayang yang tiada tara untuk buah hati yang mereka cintai. Segala pengorbanan dan perjuangan mereka lakukan semata-mata demi sang anak agar mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan masa depan yang lebih cerah.

Akan tetapi, perjuangan berat yang begitu panjang ini bukan berarti dijalani oleh orangtua dengan tanpa ada rintangan dan halangan. Selalu ada saja hambatan dan halangan yang menghiasi perjuangan itu. Namun demikian, hal tersebut tak serta merta membuat upaya orangtua dalam memberikan yang terbaik untuk anaknya terhenti ditengah jalan dan memutuskan untuk tidak lagi mencintai sang buah hati.

anggapan anak yang keliru pada pola asuh orang tua

Begitupun saat bunda mengasuh anak-anaknya. Meskipun orangtua sudah berusaha semaksimal mungkin untuk dapat memberikan pola pengasuhan yang terbaik. Namun, tak bisa dipungkiri, terkadang ada saja hambatan yang datang. Salah satu hambatan tersebut adalah dengan hadirnya kesalah pahaman anak dalam menangkap maksud dan tujuan pola pengasuhan yang diberikan oleh orangtuanya yang dilihat dari sudut pandang yang keliru. Akan tetapi, kita tidak bisa menyalahkan anak-anak apabila mereka memiliki persepsi yang keliru dalam menangkap pola pengasuhan orangtuanya.

Anak-anak masih memiliki kemampuan penalaran yang belum matang sehingga sulit  bagi mereka untuk dapat mengungkapkan apa yang sebenarnya menjadi keinginan mereka. Terkadang, apa yang diberikan oleh orangtuanya dianggap sebagai sesuatu yang dapat menyalurkan keinginan mereka.

Jika kekeliruan yang terjadi pada anak-anak terus dibiarkan tanpa dicari solusinya. Maka, dikhawatirkan hal ini akan mempengaruhi perkembangan dan pembentukan kepribadian dalam diri si anak. Yang mana, jika kepribadian yang dibentuk menuju pada sesuatu yang negatif, hal ini malah akan tertanam dalam diri mereka dan terbawa hingga anak-anak dewasa. Anda tentu tidak ingin, jika pada akhirnya apa yang anda ajarkan pada si kecil membuat kekeliruan dalam diri mereka dan membuat mereka kesulitan berbaur dan bersosialisasi dengan lingkungannya bukan? Untuk itulah, cari segera solusi jika anda mulai menemukan pertanda anak-anak menangkap kekeliruan pada pola pengasuhan yang anda berikan.

Nah, untuk itu kita kenali terlebih dahulu hal apa saja yang bisa menjadi anggapan keliru anak pada pengasuhan orangtua.

Membeli Barang Untuk Dapatkan Lebih Banyak Uang

Ketika anak-anak sudah cukup usia untuk diberikan uang jajan. Maka ajarkan pula mereka bagaimana mengelola keungan dengan bijak. Memberikan uang jajan pada anak, bukan berarti mengajarkan anak-anak untuk boros dan berfoya-foya. Justru sebaliknya, dengan diberikan uang jajan, anak-anak diajarkan bagaimana mengemban sebuah amanat dengan tanggung jawa yang besar.

Pada umumnya, anak-anak akan berpikiran bahwa uang kembalian nampak jauh lebih banyak daripada uang yang mereka belanjakan. Sehingga hal inilah yang membuat mereka seringkali menghabiskan uang jajan yang diberikan oleh orangtuanya karena mereka berpikir setelah dibelanjakan, mereka akan mendapatkan lebih banyak uag.

Nah, jika hal ini terjadi, maka menjadi tugas orangtua untuk mengajarkan dan memberikan pehaman pada anak. Buat anak-anak mengerti nominal uang dan mengenal jumlah uang. Selain itu, ajarkan pula mereka untuk membelanjakan keungannya pada hal-hal yang dianggap perlu bukan sesuatu yang bersifat boros.

Waktu Tidur Adalah Waktu Perpisahan

Ketika meminta anak-anak untuk beristirahat dimalam hari dengan memintanya segera tidur, seringkali orangtua dibuat kesulitan. Tahukah anda, mengapa demikian? Terkadang anak-anak merasa bahwa tidur dimalam hari membuat mereka terpisah selama berjam-jam dari orangtuanya. Hal inilah yang pada akhirnya membuat mereka mempertahankan diri sebisa mungkin agar tidak tidur cepat untuk menghindari perpisahan atau dipisahkan dari anda.

Untuk itulah, jangan heran, meskipun anda telah melihat kondisi anak yang sudah mulai kepayahan menahan kantuk, namun mereka tetap bersih keras untuk tetap aktif, hal tersebut semata-mata dipicu karena anak tak ingin berada jauh dari anda.

Nah untuk hal inilah, sebagai orangtua anda harus mampu memberikan cara pandang berbeda pada anak-anak agar situasi tidru , terutama tidur dimalam hari menjadi hal yang menyenangkan untuk mereka. Bila perlu dongengkan sebuah cerita sebagai pengantar tidurnya sehingga tidur lelap dimalam hari tidak akan terasa sulit untuk mereka.

Apabila Ia Kehilangan Barang/Mainan, Orangtua Akan Membelikan Kembali

Ketika boneka barbie si kecil rusak atau bola basket si buah hati tiba-tiba kempes dan tak bisa lagi dipakai. Anda lantas dengan mudah mengatakan pada si kecil bahwa anda akan membelikan kembali yang baru untuk mereka.

Meskipun, maksud kita baik agar anak-anak bisa kembali ceria dan mendapatkan mainan mereka. Namun, bukan tidak mungkin anak-anak anda bisa memaknai bahwa anda akan dengan mudah membelikan mereka mainan yang baru, yang apda akhirnya membuat anak-anak seolah tak peduli pada apa yang ia miliki.

Nah, dari sinilah orangtua harus mampu memberikan pehaman baru pada anak untuk dapat merawat apa yang menjadi miliknya. Buat pula anak mengerti arti menghargai pemberian dan menjaga barang-barang pribadnya dengan baik dibandingkan dengan membuang uang untuk membeli yang baru. Anak-anak seringkali mendapatkan mainan baru yang dibelikan oleh orangtua mereka atau didapat sebagai hadian dari paman dan bibinya dan ketika mainan tersebut berserakan dimaana saja, mereka akaSn cenderung acuh dan tidak peduli. Nah, disinilah ibu dan ayah harus bisa mengajarkan kedisiplinan untuk anak-anak agar bisa menjaga dan menghargai pemberian dari orang lain.

Selain itu, beritahukan pada anak-anak bahwa anda tidak akan selamanya bisa membelikan mereka mainan yang baru. Akan ada saatnya, dimana anda dan keluarga harus berhemat dan menabung untuk masa depan keluarga. Yang terpenting adalah buatlah anak-anak mengerti untuk dapat menghargai dan menjaga dengan baik barang-barang pribadi miliknya.

Pandangan atau anggapan keliru anak-anak terhadap pola pengasuhan yang diberikan oleh orangtunya akan berdampak fatal jika terus-terusan dibiarkan. Untuk itulah, mengenali dan mengetahui solusi untuk menindak lanjuti kekeliruan pada anak-anak atas pengasuhan yang diberikan orangtua diharapkan dapat membantu ibu dalam mendidik dan mengasuh anak-anak menjadi pribadi yang berkualitas.

Tips Penting Latih dan Ajarkan Si Kecil Hargai Perbedaan Fisik

Posted: 16 Sep 2015 11:29 PM PDT

Bunda, pernahkah anda membawa si kecil ke sebuah tempat dan ketika anda mendatangi tempat tersebut ada seorang kerabat, teman ataupun saudara anda yang memiliki keterbatasan fisik?

Lalu bagaimanakah reaksi si kecil sewaktu melihat perbedaan fisik dirinya dengan orang yang ia lihat?

Ya, seringkali ketika tak sengaja ketika si kecil dipertemukan atau bertemu dengan seseorang yang memiliki keterbatasan fisik, mereka akan memberikan respon yang spontan dengan memberikan opini yang mengejutkan. Terkadang opini ini dilontarkan dengan nada lantang dan blak-blakan yang membuat kita sebagai orangtuanya merasa tak enak hati dengan orang tersebut. Ya namanya juga anak-anak, kepolosan mereka sewaktu mendapatkan sesuatu hal yang baru, termasuk saat mereka menjumpai orang-orang yang memiliki perbedaan fisik dengan mereka, maka akan secara spontan mereka memberikan respon yang tanpa beban denagn tanpa mempertimbangkan apa yang mereka ucapkan.

ajarkan anak hargai perbedaan fisik

Umumnya, perbedaan ini akan mulai ditangkap oleh anak-anak dari usia 4 tahun ke atas. Di usia ini, anak-anak sudah bisa memahami kondisi dirinya dengan oranglain. Selain itu, akan tumbuh sikap baru dalam diri anak-anak yakni kemampuan untuk mulai membandingkan apa yang ia miliki dengan orang lain. Dimana ketika mereka mendapati hal yang dimiliki oranglain tidak sama dengan apa yang ia ketahui, maka dengan otomatis mereka akan bertanya pada kita orang dewasa, begitupun saat anak-anak menyaksikan perbedaan fisik yang dimiliki oleh oranglain.

Hal ini tentunya wajar, jika mengingat pengetahuan anak-anak yang masih begitu terbatas. Selain itu, anak-anak belum mampu mempertimbangkan perbuatan dan perkataannya sebagai hal yang buruk dan bisa menyakiti perasaan orang lain. Untuk itulah, peran orangtua akan dibutuhkan disini.

Sebagai orangtua, sudah tugas kita untuk bisa mendidik dan memanage sikap anak-anak agar ketika mereka dihadapkan dilingkungannya, anak-anak bisa memilah mana yang boleh dan tidak boleh mereka lakukan.

Ketika anda membawa anak-anak ke tempat umum dan anak melontarkan pertanyaan "Ma, kenapa bapak itu pakai tongkat?", "Ma, kenapa ibu itu duduk di kursi dorong?" dan lain sebagainya. Maka, sudah saatnya, anda sebagai orangtua harus dapat menjelaskan kepada anak mengenai perbedaan tersebut dan melatih mereka untuk bisa menghargai perbedaan yang dimiliki setiap orang.

Mengajarkan anak tentang bagaimana menghargai orang lain, mungkin akan menjadi hal yang cukup sulit. Selain itu, tantangan dan halangan akan mungkin anda dapatkan. Seperti misalkan ada begitu banyaknya pertanyaan dari si kecil, kesulitan si anak untuk menyerap alasan dan lain sebagainya. Akan tetapi, jika anda bersabar dna terus berusaha mengajarkan hal ini pada si kecil, maka perlahan namun pasti mereka akan dapat mengerti.

Lalu, seperti apa sih cara melatih dan mnagjarkan si kecil agar mampu menghargai perbedaan fisik pada oranglain? Beberapa tips dibawah ini akan dapat diaplikasikan untuk si buah hati.

1. Tanamkan Sejak Dini Tentang Keagungan Tuhan

Membiasakan anak-anak mengenal dan mengetahui Tuhan mereka adalah pelajaran yang penting yang harus senantiasa dilakukan sejak mereka masih berusia dini. Begitupun ketika anak-anak mulai memahami dan membandingkan perbedaan fisik yang mereka lihat.

Jelaskan pada anak, bahwa Tuhan yang Maha Agung telah menciptakan manusia dengan berbagai kelebihan dan kekurangan. Beritahukan pula pada anak, bahwa setiap manusia diberikan kekuarangannya masing-masing serta diberkahi dengan kelebihan dalam hidupnya. Dimana kekurangan tersebut haruslah disyukuri dan menerima kelebihan sebagai sebuah karunia dari Tuhan Yang Maha Esa.

Begitupun ketika anak meilihat seseorang yang kehilangan kakinya dan tak dapat berjalan. Mereka mungkin akan langsung bertanya pada anda dengan spontan. Nah, disinilah anda bisa memberikan arahan pada mereka bahwa meskipun orang tersebut tak dapat berjalan, namun ia mahir menggunakan kakinya untuk melakukan banyak hal dengan menggunakan tangannya. Meskipun Tuhan mengambil kakinya, namun Tuhan telah menggantinya dengan kedua tangan yang utuh yang masih dimilikinya. Disini pula lah anak harus diajarkan bagaimana caranya bersyukur.

Selain itu, buat anak mengerti bahwa kekurangan pada oranglain bukanlah sesuatu yang menyedihkan dan harus patut dibicarakan atau dijadikan bahan olok-olok. Sebaliknya, berikan pehaman pada anak bahwa mereka tetap saja sama dengannya dan salah seorang hamba Tuhan yang harus kita hargai.

Ketika anak-anak mulai mengerti, maka meraka akan mampu menghargai oranglain yang berbeda daripadanya. Selain itu, diharapkan anak-anak mampu mempengaruhi temannya untuk bisa menghargai juga.

2. Ajarkan Anak Untuk Bisa Mensyukuri Keadaannya dengan Lebih Baik

Hikmah lain yang juga bisa diajarkan pada anak-anak sewaktu mereka melihat sendiri kondisi perbedaan fisik orang lain adalah dengan mengajarkan anak bersyukur dengan kondisi yang ia miliki. Buat anak memahami bahwa ia masih jauh lebih beruntung diberikan kesempurnaan oleh Tuhan dan diberikan kemampuan untuk melakukan segalanya dengan tubuh yang utuh. Untuk itulah, mereka harus senantiasa dapat menjaganya dengan baik dan melakukannya dijalan yang benar dengan membantu oranglain yang tidak mampu. Dengan begini anak akan memiliki rasa empati untuk bisa saling membantu dengan orang lain.

3. Melatih Anak Agar Mereka Mau dan Berani Memberikan Pengaruh Baik Pada Teman-Temannya

Ketika anak sudah mendapatkan pemahaman baru akan perbedaan fisik oranglain yang mereka saksikan sendiri. Anak-anak juga perlu diberikan pemahaman agar mereka mampu memberikan pengaruh positif pada teman-temannya. Ketika anak bermain bersama dengan temannya dan mereka melihat oranglain yang memiliki keterbatasan fisik, maka tidak sepatutnya mereka mengolok-oloknya. Sebaliknya, mereka harus bisa membantu dan saling berbagi. Tanamkan pula pada diri anak bahwa menghibur dan menyenangkan oranglain adalah pahala.

4. Ajak Anak Melakukan Permainan Empati

Menjelaskan teori menghargai oranglain saja, tidak akan cukup membuat anak merasakan betapa sulitnya menjadi seseorang yang memiliki keterbatasan fisik. Untuk itulah, orangtua perlu mengajarkan anak dan mengajak mereka melakukan permainan empati. Dalam hal ini anda bisa berperan sebagai orang biasa sementara anak menjadi orang yang memiliki keterbatasan fisik. Buat mereka mengerti bagaimana rasanya dan susahnya hidup dengan keterbatasan. Dengan begini mereka akan paham betul bagaimana menghargai.

5. Bacakan Cerita Inspirasi Mengenai Orang Keterbatasan yang Bisa Berhasil

Bacakan cerita pada anak atau anda bisa mengakses media internet untuk memberikan anak inspirasi bahwa orang-orang yang memiliki keterbatasan bukan berarti orang yang tak dapat melakukan apa-apa. Ada begitu banyak kisah inspirasi yang membuat orang keterbatasan bisa sukses bahkan kesuksesannya bisa melampaui orang-orang yang normal. Degan begini anak akan paham bagaimana menghargai oranglain, terutama mereka yang memiliki keterbatasan.

Mengajarkan anak tentang bagaimana menghargai orang lain bukan hanya terbatas pada menghargai orang yang memiliki perbedaan fisik saja. Anak-anak juga perlu dibekali dengan pendidikan menghargai oranglain dalam berbagai aspek kehidupan. Semoga tips diatas bisa membantu ibu menanamkan sikap menghargai pada anak ketika melihat perbedaan fisik pada oranglain.

Ketahui Nilai Lebih Saat Anak Laki-Laki Lebih Dekat dengan Ibunya

Posted: 16 Sep 2015 11:29 PM PDT

Anak laki-laki yang cenderung menjalin kedekatan yang lebih bersama dengan ibunya dibanding dengan ayah mereka, seringkali dijuluki dengan "anak mama".

Predikat "anak mama" pada anak laki-laki seringkali diidentikan dengan sesuatu yang kurang indah. Lain halnya dengan julukan "anak papa". Julukan ini umumnya sering tergambar sebagai seseorang yang hebat, maskulin, berjiwa tangguh seperti sering bermain dan menghabiskan waktu dengan ayahnya yang membuat mereka terlihat seolah benar-benar hebat.

Akan tetapi, ketika anak laki-laki mendapatkan julukan "anak mama", julukan ini seringkali digambarkan sebagai sesuatu yang kurang menyenangkan. Anak laki-laki yang cenderung lebih dekat dengan ibunya dan meniru segala pekerjaan ibunya dirumah, seperti halnya belajar memasak, mencuci pakaian sendiri atau bermain peran dengan boneka. Tak sedikit orang yang akan mengeryitkan dahinya dan merasa seolah anak laki-laki seperti ini dianggap kurang maskulin.

Apalagi sewaktu si ibu seringkali dibuat khawatir ketika anak laki-lakinya berada jauh dari si ibu. Tak pelak, akhirnya si ibu sering mengunjungi si anak atau terus-terusan menanyakan kabar putranya. Dari sinilah, tak perlu menunggu lama streotip "Anak Mama pun" langsung akan melekat erat pada diri si anak.

kelebihan anak laki laki dekat dengan ibu

Saking dihindarinya, bahkan di beberapa daerah ada nasihat yang menyatakan agar anak laki-laki tidak terlalu dengan dengan ibunya dan para ibu tak perlu terus-terusan mengkhawatirkan anak mereka dimana pun mereka berada dan kemana pun perginya mereka. Sikap ibu yang seringkali menanyakan kabar atau memanjakan anak laki-lakinya dengan kasih sayang dianggap sebagai perilaku yag mengekang, terlau melindungi atau bahkan memanjakan si anak. Yang membuat si anak laki-laki pada akhirnya tak bisa mandiri sejak dini. Hal ini tentu saja terjadi dikarenakan anak laki-laki seringkali digambarkan sebagai sosok yang gagah berani, kuat, tanggu dan juga bebas. Untuk itulah, seringkali terasa aneh bagi masyarakat bila anak laki-laki mengerjakan tugas rumah tangga.

Akan tetapi, kita semua paham betul bahwa memberikan predikat pada anak laki-laki yang lebih dekat dengan ibunya dengan sebutan "anak mama" bukanlah sikap yang bijak. Kita semua tahu, bahwa apapun jenis kelamin si anak, baik laki-laki maupun perempuan, semua anak akan tumbuh dengan baik apabila mereka memiliki hubungan yang dekat dengan ibunya. Bahkan sebuah studi yang dilakukan pada pengamatan terhadap sebanyak hampir 6000 anak laki-laki yang tidak memiliki hubungan dekat dengan ibu mereka menunjukan bahwa terjadi perkembangan sikap yang lebih destruktif dan agresif pada anak-anak. Dalam studi ini para peneliti mengungkapkan bawa anak laki-laki yang tidak memiliki hubungan dekat dengan ibu mereka akan berpengaruh pada pembentukan kepribadiannya. Anak-anak akan membawa rasa takut terhadap kedekatan dan cenderung menjadi pembangkang saat mereka dewasa kelak.

Untuk itulah, menghadirkan sosok ibu dan menjalin kedekatan dengan anak secara lebih intens sewaktu mereka masih kecil adalah hal yang penting. Selain itu ada banyak nilai lebih ketika hubungan anak laki-laki lebih dekat dengan ibunya. Apa sajakah nilai lebih itu? Kita simak berikut ini.

Memunculkan Kecerdasan Emosi dan Rasa Empati Pada Anak

Kedekatan yang dijalin ibu bersama dengan anak laki-laki mereka sewaktu mereka masih kecil akan membuat si anak bebas mengenali dan mengeksprsikan emosinya. Dengan kasih sayang yang diberikan oleh si ibu, kelak anak-anak pun akan lebih peka pada rasa tidak nyaman yang ia rasakan. Begitu pula saat mereka melihat emosi tertentu yang ditunjukan oleh oranglain sehingga akan lebih mudah baginya untuk berempati karena ia memahami betul bagaimana perasaa orang lain tersebut. Hal ini pun akan membuat si anak mudah mendapatkan teman dilingkungannya, karena ia dibekali dengan kemampuan untuk membaca perasaan dan kondisi lingkungan sekitarnya karena rasa peka yang lebih dalam yang mereka dapatkan dari ibu mereka.

Memiliki Paham yang Seimbang Mengenai Maskulinitas

Berbeda dengan anak laki-laki yang lebih dekat dengan ayah mereka dibandingkan dengan ibunya. Anak laki-laki yang dekat dengan ibu sejak mereka masih kecil akan memiliki pandangan yang berbeda mengenai maskulinitas.

Anak laki-laki yang lebih dekat dengan si ayah mungkin akan memaknai bahwa bersikap dingin, tegas, gagah adalah bagian dari maskulinitas. Akan tetapi, jika anak laki-laki lebih dekat dengan ibunya, mereka akan lebih memaknai bahwa definisi dari maskulin tersebut tidaklah harus gagah, dingin atau tegas. Namun lebih kepada bertanggung jawab dan menghargai orang lain. Hal ini tentunya akan berguna bagi mereka dimasa depan, apalagi saat mereka sudah berumah tangga. Tanggung jawab mereka terhadap keluarga tentunya akan lebih besar.

Lebih Menghargai Perempuan

Seringkali seorang pra sulit dalam memahami seorang perempuan. Hal ini tentunya dilatar belakangi karena sensitifitas seorang pria berbeda dengan wanita. Nah, untuk mengerti seorang wanita, maka seorang pria setidaknya harus mengetahui bagaimana cara pandang dan isi hati wanita itu sendiri agar mereka lebih mudah memahami perempuan. Nah, bagi anak laki-laki yang lebih dekat dengan ibunya, kemampuan ini akan dengan mudah mereka dapatkan, karena secara tidak langsung waktu yang mereka habiskan bersama dengan ibunya akan membuat mereka memiliki gambaran bagaiman seorang wanita untuk bisa dimengerti.

Memiliki Kesempatan Lebih Sukses Dalam Pekerjaan

Kondisi ekonomi saat ini rupanya lebih cenderung membutuhkan pekerja dengan kemampuan komunikasi yang kuat dan kecerdasan emosi yang tinggi untuk memahami keinginan klien dibandingkan dengan kemampuan fisik dan sikap kepemimpinan bak seorang pejuang. Untuk itulah, anak laki-laki yang lebih dekat dengan ibunya tentu akan dengan mudah mendapatkan hal ini berdasarkan pengalaman yang ia dapatkan dari ibunya sendiri.

Kesempatan Mendapatkan Nilai Akademik yang Lebih Tinggi

Sebuah penelitian yang melibatkan sebanyak hampir 400 orang anak usia sekolah menengah umum di kota New York mengindikasikan bahwa anak laki-laki yang memiliki kedekatan dan jalinan yang lebih dengan ibunya dibandingkan dengan ayahnya, terbukti menjadi anak-anak yang tidak mudah dirundung dengan rasa panik, cemas dan juga depresi.

Oleh karena itu, sewaktu mereka diberikan masalah atau test secara mendadak, rasa panik lebih bisa mereka redam dan mereka mampu berfokus pada bagaimana caranya berhasil dan menyelesaikan test tersebut lebih baik dibandingkan dengan anak-anak yang tidak menjalin kedekatan dengan ibu mereka sama sekali.

Memberikan predikat pada anak laki-laki yang memiliki kedekatan lebih pada ibu mereka dengan sebutan "anak mama" tentunya bukanlah hal yang bijak. Pada kenyataannya, ada begitu banyak nilai lebih yang bisa mereka dapatkan dari dekat bersama dengan ibu. Akan tetapi ini pun tidak berarti mendukung bahwa seorang laki-laki deasa harus berpaling kepada ibu mereka saat mereka menghadapi masalah. Karena bagaimanapun, hal ini bukanlah hal yang sebijaknya terjadi ketika mereka menghadapi masalah.  Semoga artikel ini bisa memberikan pengetahuan dan bermanfaat untuk ibu semua dalam mendidik anak-anaknya dirumah.

Sudah Tepatkan Pola Mendidik Anak Kakak yang Harus Selalu Mengalah?

Posted: 16 Sep 2015 11:28 PM PDT

Memiliki dua anak atau lebih yang masih kecil dalam sebuah rumah seringkali menjadi hal yang menyenangkan.

Selain rumah menjadi begitu hangat, kehadiran dua malaikat kecil ini seringkali menjadi kebahagiaan dan pelipur lara yang begitu mujarab. Aplagai saat mereka terlihat kompak sewaktu melakukan segala halnya bersama dan mau berbagi hal bersama-sama.

Akan tetapi, semua bayangan indah ini seketika menghilang dan berubah menjadi kegaduhan, ketika si kakak yang masih berusia 7 taun dan si adik yang berusia 4 tahun berkelahi dan berebut sesuatu. Mulai dari suasana hingar bingar, tawa, tangis atau bahkan suara teriakan yang bercampur aduk dengan suara mainan yang terus berbunyi terdengar disetiap pojok ruangan. Rumah tak ubahnya seperti kapal pecah, semua peralatan dan perabotan berserakan dan terporak-poranda dimana-mana. Ketika sudah begini, meskipun ibu sudah memperingati untuk menghentikan perkelahian tersebut, tetap saja rasanya suara peringatan ibu kalah kencang dari teriakan dan histerisnya suara anak-anak.

tepatkah pola didikan kakak mengalah pada adik

Meskipun keduaanya sama-sama anak perempuan, namun tetap saja ketika keduanya sudah terlibat dalam pertengkaran, suara mereka begitt menggelegar dan terdengar hingga keluar rumah, tak ubahnya seperti teriakan anak laki-laki. Ketika ibu sudah dihadapkan pada permasalahan seperti ini, maka rasa pusing dan frustasi tak lagi bisa dihindari. Pada akhirnya ibu akan meminta si kakak untuk mengalah pada adiknya dengan alasan si adik masih begitu kecil dan sudah menjadi tugas si kakak yang lebih besar agar bisa mengalah dengan lapang dada.

Awalnya, semua hal berjalan dengan lancar ketika si kakak yang saat ini berusia 7 tahun lahir kedunia. Bahkan ketika kehamilan kedua si ibu sudah memperkenalkan si kakak pada calon adik bayinya. Dan rupanya, si kakak terlihat begitu antusias menunggu kelahiran sang adik. Ia bahkan terlihat begitu senang sewaktu diminta bantuan untuk menemani ibu pergi ke bidan untuk periksa kehamilan.

Akan tetapi, semuanya berubah ketika si adik lahir kedunia. Kecemburuan mulai ditunjukan dan diperlihatkan si kecil. Entah karena pikirannya masih terlalu kecil dan belum memahami bahwa si adik bayi membutuhkan perhatian yang lebih besar atau mungkin karena dipengaruhi oleh faktor perlakukan ibu yang terlalu terfokus pada si adik. Hal ini membuat si kakak seringkali terlihat kesal, ketika si ibu mulai sibuk dengan si adik. Sehingga ketika si adik mulai betumbuh besar dan mulai bermain bersama dengan si kakak, selalu ada saja pertengkaran dan perselisihan. Masalahnya pun tidak jauh dari berebut barang atau dikarenakan salah satu diantara mereka cemburu dengan barang milik oranglain.

Alhasil, untuk bisa mendamaikan mereka dan mengganggap hal ini sebagai pola didikan, ibu seringkali meminta si kakak untuk bisa mengalah pada si adik kecil. Disadari atau tidak, hal ini sering kita lakukan pada anak-anak terutama pada si kakak. Namun, tahukah ibu ternyata pola mendidik seperti ini akan berdampak pada perkembangan kepribadian si anak dimasa selanjutnya.

Selain memberikan dampak positif, rupanya sikap yang mengharuskan si kakak untuk selalu mengalah pada adiknya juga memiliki dampak yang buruk.

Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah buku parenting dengan judul "Nyebur ke Dunia Anak", seorang psikolog menjelaskan bahwa mendidik anak agar selalu bersikap mengalah tidaklah baik bagi perkembangan si anak itu sendiri. Baik perkembangan si kakak maupun perkembangan si adik.

Si kakak yang selalu mengalah pada adiknya dalam segala hal, terutama ketika hal itu tidak datang dari dalam dirinya, akan cenderung membentuk pribadi yang kurang memiliki rasa percaya diri dan sikap optimisme. Bukan hanya itu, hal ini pun akan membuat si kakak seringkali dihinggapi rasa ragu dan takut untuk mengecewakan orang lain.

Selain itu, rasanya kurang bijak jika setiap kali si kakak dan si adik bertengkar, ibu terus-terusan meminta si kakak untuk mengalah tanpa si kakak mengetahui alasan mengapa ia harus melakukan hal itu pada adiknya. Sewaktu-waktu mungkin si kakak perlu untuk mengalah pada adiknya, namun disamping itu pun ia harus mengerti alasan mengapa dirinya harus mengalah. Ketika ia mempertahankan miliknya, ia pun harus mengerti mengapa ia bertahan. Ingat kembali bahwa rumah adalah tempat pertama bagi anak-anak untuk dapat menemukan jawaban-jawaban dari pertanyaan tersebut.

Poin terpenting dalam mendidik anak dikeluarga, bukanlah seberapa berhasil anda bisa menciptakan ketenangan dan kedamaian antara anak-anak, tanpa memahami proses yang anda tempuh didalamnya. Dalam hal mendidik anak, orangtua perlu menciptakan kondisi yang paling nyaman untuk si anak itu sendiri. Yaitu, bila anak mampu belajar kapan ia harus mengalah dan kapan ia bisa bersih keras mempertahankan sesuatu. Dengan begini, anak-anak akan paham simulasi memberi dan menerima yang diharapkan kebiasaan ini bisa terbawa hingga meraka dewasa. Yang mana sebaiknya proses ini dijalani dalam lingkungan keluarga.

Dari sinilah peran orangtua akan menjadi sedemikian penting untuk mendampingi anak dalam proses tumbuh kembangnya. Dalam hal ini, orangtua, terutama ibu harus mampu menjadi penengah ketika terjadi keributan atau masalah diantara anak-anaknya.

Lantas bagaimana sikap yang seharusnya ditunjukan ibu ketika menghadapi anak-anak yang bertengkar dan saling berebut? Mari kita simak berikut ini.

Sikap Orangtua Menghadapi Perselisihan Anak-Anak

Alihkan Perhatian Si Adik

Ketika si kakak bersih keras mempertahankan sesuatu dan anda melihat jika barang tersebut adalah miliknya. Maka, sebagai orangtua anda tentunya harus bisa  berlaku bijak. Ketika anda meminta si kakak untuk merelakan barang miliknya untuk si adik, hal ini akan mungkin membuat si kakak menolak dan bahkan protes.

Nah, ketika masalah seperti ini anda hadapi, maka sikap yang bisa anda berikan pada anak-anak adalah dengan membawa si adik dan mengalihkan perhatiannya agar ia tak terus-terusan menginginkan barang si kakak. Misalkan ketika si adik ingin merebut pensil milik si kakak dan mereka berdua terjebak pertengkaran, maka ambil si adik dan ajaklah ia untuk membantu ibu didapur atau alihkan mereka pada sesuatu yang membuat si adik tertarik. Dengan begini, si kakak akan tetap memiliki barangnya dan si adik pun asik bermain dengan permainan baru yang ibu berikan sehingga pertengkaran bisa dihindarkan.

Buat Si Kakak Memaklumi

Ketika si kakak merasa cemburu dengan perhatian ibu yang cenderung lebih besar pada si adik. Maka, buatlah si kakak mengerti dan memaklumi hal tersebut. Buat ia maklum bahwa sebelum si adik lahir, kasih sayang dan perlakuan yang sama yang didapat si adik sudah lebih dulu didapatkan oleh si kakak dan kini tiba saatnya giliran si adik. Sementara itu, buat mereka mengerti bahwa usia si adik yang masih begitu kecil membuat mereka belum mampu melakukan banyak hal sendiri.

Berikan Pemahaman Bahwa Mereka Berdua Adalah Saudara yang Harus Saling Menjaga

Ketika adik dan kakak terus-terusan bertengkar dan anda sudah tidak tahu harus melakukan apa. Maka, beritahu pada kedua buah hati anda bahwa mereka adalah saudara sedarah, sudah seharusnya kakak dan adik saling menjaga, membantu dan memberi. Jika anda merasa anak sudah cukup paham menangkap nasihat anda, maka beritahukan pula pada mereka bahwa dimasa depan nanti ketika anda tidak lagi bersama dengan mereka, maka sudah menjadi kewajiban mereka untuk saling memberi dan membantu satu sama lainnya. Usahakan buat anak-anak tersentuh dan mengerti bahwa mereka akan saling membutuhkan.

Dalam hal mendidik anak, pertengkaran dan perselisihan anak-anak sudahlah bukah barang tentu dan tidak mudah memang menghadapi dan mengatasi anak-anak yang demikan. Untuk itulah, orangtua harus dapat mengatasi kecemburuan pada anak-anak, yakni dengan mengarahkan mereka agar merasa bangga dan nyaman dengan apapun yang mereka miliki dan apapun status mereka dalam keluarga. Semoga beberapa cara diatas bisa memberikan pengetahuan dan wawasan baru untuk orangtua dalam menjaga anak-anaknya.

Kenali dan Ketahui Cara Atasi Trauma Pada Anak Korban Kekerasan Seksual

Posted: 16 Sep 2015 11:28 PM PDT

Belakangan ini marak terjadi pelecehan dan bahkan kekerasan seksual yang terjadi dimasyarakat.

Mirisnya, si pelaku bukan hanya mengincar para korban orang dewasa saja, namun juga tak pandang bulu dengan menajdikan anak-anak tak berdosa sebagai korban kekejiannya. Kasus yang masih hangat di telinga kita adalah kasus pelecehan seksual yang tejadi di salam satu Taman Kanak-Kanak Internasional di ibu kota. Hal ini seolah menjadikan sinyal bahwa kewaspadaan pada orangtua dalam hal mendidik, melindungi dan mengasuh anak-anaknya harus senantiasa ditingkatkan dan diperkuat, sebab kita tidak pernah tahu kapan masalah dan musibah akan menimpa buah hati kita.

Mengalami kejadian yang tidak menyenangkan atau bahkan menjadi bagian dari korban sebuah kejahatan, tentu akan meninggalkan luka dan trauma yang besar dalam diri seseorang, apalagi yang terkait dengan korban tersebut adalah melibatkan anak-anak. Kondisi mental dan kejiwaan yang masih tidak stabil dalam diri anak-anak membuat mereka lebih rentan terguncang ketika mendapatkan tekanan baik dari pihak dalam maupun pihak luar, yang dalam hal ini adalah orang asing bukan bagian dari keluarga.

mengatasi trauma anak korban kekerasan seksual

Ya, kekerasan yang terjadi atau mungkin dialami buah hati kita bisa mungkin bukan hanya didapat dari orang-orang dalam seperti keluargnya. Meskipun usaha kita sudah begitu besar dalam melindungi dan menjaga agar buah hati kita tidak serta merta mendapatkan tekanan dari orang-orang sekitarnya. Akan tetapi pada kenyataannya, sulit sekali melindungi mereka dengan begitu ketat. Selalu saja ada hambatan dan tantangan yang datang dari orang lain seperti orang-orang yang ada si sekolah anak, pengasuhnya dan lain sebagainya. Nah jika sudah begini, tak sedikit orangtua yang merasa kecolongan saat mereka merasa telah menjaga dan melindungi anak-anak mereka dengan begitu baik.

Sebagai orangtua, tentu kita tidak ingin jika suatu hal buruk menimpa buah hati yang begitu kita cintai. Akan tetapi ketika masalah telah datang, rasanya sulit untuk memperbaiki dan mustahil bagi kita untuk bisa memutar kembali waktu dan mengubah apa yang telah terjadi.

Menghilangkan trauma pada anak-anak yang menjadi korban kekerasan seksual memang agak sulit. Namun demikian, bukan berarti langkah tersebut tidak dapat kita usahakan. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan orangtua atau kita semua dalam rangka membantu anak-anak yang menjadi korban kekerasan untuk dapat mengatasi traumatiknya.

Seperti yang kita ketahui, traumatik yang dirasakan pada anak-anak bila terus dibiarkan bukan tidak mungkin trauma tersebut terbawa hingga mereka dewasa dan pada akhirnya membentuk pribadi yang mengkhawatirkan dalam diri anak. Seperti misalkan membentuk pribadi yang keras, berontak, minder atau ketakutan ini akan tertanam dalam diri anak hingga ia menjadi dewasa sehingga sulit baginya untuk bisa bergaul dan berbaur secara normal dengan teman-temannya yang lain.

Untuk itulah, mengupayakan segala hal untuk membantu anak-anak korban kekerasan seksual adalah hal penting yang harus dilakukan oleh kita sebagai orang dewasa apalagi sebagai orangtua.

Lantas seperti apa sih cara mengatasi trauma pada anak korban kekerasan seksual? Mari kita simak berikut ini.

1. Hindarkan Mengisolasi Anak

Ketika anda mendapati si anak menjadi korban pelecehan atau kekerasan seksual oleh orang lain, anda lantas begitu khawatir dengan keselamatan si buah hati dan malah mungkin, ketakutan yang baru muncul dalam diri anda bahwa si kecil bisa jadi mengalami hal serupa dan dilakukan oleh orang lain. Dengan begini anda kemudian menjauhkan anak  dari kehidupan sosialnya dan melarangnya pergi keluar rumah atau bergaul dengan teman-temannya.

Ketahui lebih dini, menjauhkan anak yang baru saja mengalami hal buruk dalam hidupnya, terutama kekerasan seksual, hanya akan menimbulkan raa kesepian pada anak. Ketika anak merasa sendiri dan kesepian, buka tidak mungkin hal ini akan mengikat mereka pada kejadian buruk yang telah menimpanya dan ketakutan ini akan semakin membesar.

Untuk itulah, sebaiknya usahakan anak agar tetap bisa ceria dan bermain layaknya seperti anak biasa. Upayakan agar anak bisa mendapatkan kembali kehidupan normalnya seperti sediakala. Karena hanya dengan begini, perlahan mereka akan dapat melupakan traumatik dan ketakutannya pada masalah yang telah menimpa mereka.

Akan tetapi, pengawasan ekstra dari kita para orangtuanya adalah jaminan pasti keselamatan si anak. Untuk itu, biarkan anak bermain, namun dengan perhatian dan pengawasan penuh dari orangtunya.

2. Jauhkan Anak Dari Tempat Dimana Kejadian Tersebut Terjadi

Jika anak mendapatkan kekerasan seksual atau pelecehan di sekolah atau mungkin tempatnya mendapatkan tambahan pelajaran seperti les. Sebaiknya, ibu bisa memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikan anak ditempat yang sama. Selain akan mempengaruhi pergaulan si anak dalam lingkungan tersebut, tekanan baru akan mungkin mereka dapatkan. Terutama, tekanan dari teman-temannya yang mengetahui kejadian tersebut. Hal inilah yang dikhawatirkan akan semakin memperburuk memori dan traumatik anak akan kejadian yang telah menimpanya.

Akan lebih baik, guna mengembalikan dan membantu menghilangkan trauma anak dari kejadian tersebut, ibu memilih menjaga anak sementara dirumah agar ibu bisa memberikan perhatian pada kondisi anak hingga kondisinya bisa kembali pulih.

3. Aplikasikan Metode Terapi EMDR

Terapi EMDR atau merupakan kepanjangan dari Eye Movement Desensitization Reprocessing adalah salah satu bentuk psikoterapi yang banyak diusulkan oleh para psikolog untuk mengatasi trauma mendalam pada anak-anak. Terapi ini awalnya dirancang untuk dapat menghilangkan stres yang kerap kali berkaitan dengan pengalaman atau ingatan traumatik.

Terapi ini mulai bisa diaplikasikan pada anak berusia 4 sampai 5 tahun keatas. Terapi ini telah melalui uji coba dan hasilnya terbukti efektif dan cepat mengatasi trauma pada anak. Terapi EMDR tidak menggunakan obat atau hipnotis pada anak. Yang mana ini merupakan aplikasi terapi yang sederhana dengan tidak menyakiti si kecil namun melibatkan peran serta terapis pasien agar penyembuhan bisa berlangsung efektif. Untuk itulah, terapi ini dianjurkan untuk langsung melibatkan orangtua didalamnya.

4. Alihkan Anak Pada Kegiatan yang Lebih Positif

Anak-anak yang menjadi korban kekerasan dan mendapatkan trauma mendalam, umumnya akan membuat anak menjadi lebih pendiam, murung dan seringkali menutup diri. Nah, agar anak tak melulu merasakan ketakutan dan dihantui kepanikan yang mendalam. Maka tidak ada salahnya orangtua mengupayakan segala hal agar si buah hati bisa teralihkan pada kegiatan yang lebih positif sesuai dengan hobinya. Seperti misalkan bermain sepakbola, bermain boneka atau membuat mereka tetap merasa sibuk dimana sebagian besar perhatiannya teralihkan pada kegiatan tersebut.

5. Berikan Dukungan dan Tetaplah Optimis

Anak yang masih begitu kecil, umumnya akan lebih banyak meniru semua perbuatan dan hal yang dilakukan oleh orang dewasa, termasuk orangtua mereka sendiri. Ketika anda mendapati anak-anak menjadi korban kekerasan seksual atau pelecehan, bukan berarti anda harus terus-terusan menyesal dan menyalahkan segala sesuatunya pada kondisi dan keadaan. Sebab hal ini malah akan membawa tekanan baru pada si anak dan membuat mereka semakin dihantui dengan ketakutan. Untuk itu, sebaiknya berikan dukungan pada anak bahwa mereka akan baik-baik saja dan kelak dimasa depan kehidupan mereka akan bisa berjalan dengan baik dengan bantuan anda.

Selain itu, berikanlah pengaruh yang positif dengan tetap berpikiran positif. Ketakutan dan trauma yang mendalam pada anak akan semakin besar jika anda memberikan mereka dengan kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi dalam kehidupan mereka dimasa depan. Untuk itu, berikan mereka dukungan dengan cinta dan kasih sayang anda.

Anak-anak yang mengalami kejadian buruk dan pengalaman yang kelam akan dapat menimbulkan trauma mendalam bagi anak, termasuk anak-anak yang menjadi korban kekerasan seksual. Untuk itu, mengetahui dan mengenali beberapa cara membantu anak mengatasi trauma tersebut diharapkan mampu meringankan beban dan trauma mereka.  

Title : Bidanku.com
Description : Bidanku.com Tips Agar Anak-Anak Tak Berebut Barang Jadi Orangtua Pintar, Kenali Beberapa Anggapa...

0 Response to "Bidanku.com"

Posting Komentar