Bidanku.com

Bidanku.com

Link to Bidanku.com

Pertimbangkan Beberapa Hal Ini Sewaktu Memberikan Larangan "Tidak" Atau "Jangan" Pada Si Kecil

Posted: 20 Sep 2015 11:24 PM PDT

Setiap orangtua didunia tentu menginginkan hal yang terbaik untuk anak-anak mereka.

Itulah mengapa, ada banyak upaya dan tindakan yang akan dilakukan para orangtua untuk bisa mengendalikan dan membimbing anak-anaknya pada jalan yang mereka kehendaki, tentunya jalan tersebut adalah jalan yang benar yang tidak akan menjerumuskan anak-anaknya.

Nah, dalam rangka mengarahkan dan membimbing anak inilah yang membuat orangtua banyak menerapkan peraturan dan arahan dalam kehidupan seorang anak. Hal ini tentu saja, semata-mata demi membatasi sikap anak agar tidak menyimpang dan berlebihan. Untuk itulah, dalam mendidik anak orangtua akan memberlakukan apa yang boleh dilakukan oleh anak dan apa yang tidak diperbolehkan anak-anak untuk dilakukan yang mana hal ini seringkali disebut dengan larangan.

Ketika buah hati mereka kedapatan melakukan sesuatu yang bisa membuat mereka dalam bahaya atau melanggar sebuah peraturan yang sudah dibuat, maka orangtua cenderung akan memberlakukan larangannya dengan mengatakan "tidak" atau "jangan" pada buah hati mereka.

hal yang harus dipertimbangkan sebelum mengucapkan larangan

Akan tetapi, dua kata larangan ini umumnya tidak disukai oleh anak-anak. Tidak sedikit diantara mereka yang bahkan tidak mengindahkan larangan dari orangtua. Sebaliknya, mereka malah mengabaikan larangan tersebut dengan sengaja melakukannya. Sebuah penelitian menunjukan bahwa banyaknya larangan yang diterima anak-anak akan berpengaruh pada sikap anak-anak di kemudian hari.

Anak-anak adalah sumber belajar untuk menyusun strategi dalam reaksi tindakan mereka. Dalam hal ini orangtua seringkali dihadapkan pada perintah dan larangan atas perilaku anak-anaknya. Padahal keduanya memiliki pengaruh yang kuat dalam pembentukan karakter pribadi anak, yang mana pribadi ini akan terus tertanam dalam dirinya dan terbawa hingga ia dewasa.

Ketika orangtua memberikan larangan dengan penyampaian yang keliru, anak akan dapat meniru kembali cara orangtua menolak permintaannya. Bahkan, anak yang sering menerima kata larangan akan cenderung memiliki kemampuan bahasa yang kurang dibandingkan anak lain yang sering menerima kalimat positif. Untuk itulah, akan lebih baik jika sebelum memberikan larangan pada anak-anak, orangtua mempertimbangan banyak hal semata-mata demi kebaikan buah hatinya.

Memberikan larangan atau berkata "tidak" pada anak-anak sebaiknya memiliki batasan serta aturan agar hal tersebut tidak menganggu perkembangan emosional si anak. Sebab ada dampak yang buruk yang akan berpengaruh pada anak-anak, salah satunya adalah membuat si anak merasa rendah diri dan membuat mereka tidak kemampuan untuk dapat memecahkan masalah sendiri. Akan tetapi disamping itupun, memberikan larangan pada anak, semata-mata bertujuan untuk mendisiplinkan mereka. Lantas, apa sajakah beberapa hal yang harus dipertimbangkan oleh orangtua sebelum memberikan larangan pada anak-anak? Mari kita simak berikut ini.

Berikan Penjelasan Sederhana

Ketika anda memberikan larangan pada si kecil pada sesuatu hal. Sebaiknya, tidak hanya menyampaikan larangan tersebut dengan semata-mata. Anak-anak tentu saja akan merasa bingung, apalagi ketika larangan tersebut disampaikan dengan tiba-tiba. Hal ini tentu saja akan membuat anak terkejut dan sedih. Itulah mengapa anak-anak balita yang diberikan larangan akan cenderung marah dan malah menangis.

Nah, agar anak bisa menerima larangan yang diberikan oleh orangtua, maka cobalah berikan penjelasan pada si kecil agar mereka tidak merasa bingung kenapa dirinya dilarang. Tak perlu penjelasan yang panjang dan bertele, cukup berikan penjelasan yang sederhana dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh si kecil. Misalkan, ketika anda melarang si kecil dengan perkataan "Dek, jangan main api, sini bersama dengan ibu. Api berbahaya, Nak," kalimat ini tentunya akan lebih bijak dibandingkan hanya dengan melarangnya "Jangan main dekat api, dek!" Hal ini justru akan membuat benak si anak dibendungi dengan pertanyaan yang pada akhirnya membuat raa penasarannya untuk bermain api akan menjadi lebih besar.

Berikan Alternatif Positif

Ketika memberikan kalimat larangan, sebaiknya sampaikan dengan jelas dan secara sfesifik. Selain menghindari anak kebingungan, kalimat yang jelas akan membuat anak lebih mudah menuruti dan memahaminya. Misalkan, ketika anda melarang anak-anak untuk berlarian didalam rumah sebaiknya tidak katakan "Jangan lari-lari didalam rumah!", sebaliknya lebih baik katakan "Dek, jalan pelan-pelan ya kalau didalam rumah".

Nada larangan ini tentunya terdengar lebih seperti nasihat dibandingkan larangan yang umumnya tidak disenangi anak-anak. Dengan demikian anak-anak akan cenderung lebih mendengarkan dan menerima apa yang kita berikan.

Jangan Sampaikan dengan Nada Keras dan Lantang

Ketika mendapati si kecil melanggar peraturan atau melakukan kesalahan, sebaiknya jangan berikan larangan yang terdengar dengan lantang atau bernada keras. Apalagi jika disampaikan dengan kata-kata yang kasar. Hal ini tentu saja akan berpengaruh pada perkembangan si kecil. Ketika anda menyampaikan larangan dengan kata-kata yang kasar, hal ini bukan tidak mungkin ditiru oleh mereka.

Anak-anak akan mengasumsikan bahwa menyampaikan penolakan yang baik adalah disampaikan dengan nada lantang dan kata-kata kasar. Untuk itulah, sebaiknya perhatikan setiap perkataan dan perhatikan nada anda sewaktu berbicara pada mereka. Yang terpenting dari larangan ini adalah upayakan sebisa mungkin agar anak-anak bisa menuruti larangan tersebut namun dengan tidak mengabaikan hal-hal penting yang bisa mempengaruhi perkembangan si anak.

Tanyakan Kembali Aturan Untuk Mengingatkannya

Ketika anak-anak melanggar aturan yang telah mereka pelajari dan mereka paham betul akan sanksi dan peraturan yang sudah dibuat. Daripada marah-marah, lebih baik kendalikan emosi anda. Siapa tahu anak anda melakukannya dalam rangka mencari perhatian anda. Untuk itu, sebaiknya tanyakan kembali aturan yang pernah anda buat. Hal ini semata-mata untuk mengingatkan anak-anak akan peraturan tersebut. Seperti misalkan "Dek, apa yang mama bilang tentang tidak mengerjakan PR?" atau "Dek, mainan dirapikan lagi ya, ingat kan yang mama bilang?". Hal ini akan membantu anak untuk memperkuat pemahaman aak tentang sebuah aturan dan meraka dapat memperbaiki diri setelah melakukan kesalahan.

Tidak semua strategi dapat berkerja pada setiap anak. Untuk itu, sebagai orangtua kesabaran kita akan diuji untuk dapat mendisiplinkan buah hati. Akan tetapi mengetahui beberapa hal yang harus dipertimbangkan sebelum memberikan larangan adalah hal penting sebab dampak dari larangan tersebut akan berpengaruh terhadap perkembangan anak-anak terutama pembentukan kepribadiannya. Semoga tips ini brmanfaat untuk semua orangtunya dimanapun berada.

Agar Mendidik Anak Berhasil, Ajak Pengasuh Kerja Sama Disiplinkan Buah Hati

Posted: 20 Sep 2015 11:24 PM PDT

Sebagai orangtua tentunya kita menginginkan jika buah hati yang kita lahirkan bisa tumbuh menjadi orang yang sukses, memiliki kepribadian yang menyenangkan dan memiliki etika serta budi pekerti yang luhur.

Untuk itulah, segala hal dan upaya akan senantiasa kita lakukan demi memiliki buah hati yang telah kita impikan. Perkembangan buah hati dalam keluarga, tentu akan dapat berjalan dengan baik, jika peran orangtua dalam mendidik buah hati bisa diberikan secara penuh. Dalam hal ini, tentunya akan lebih mudah mendisiplikan dan mendidik mereka, jika orangtua berperan langsung dan mengambil andil secara penuh dalam membesarkan anak-anaknya.

Ketika orangtua, mengambil andil yang besar dalam kehidupan anak-anaknya, maka akan lebih mudah bagi mereka untuk bisa mengatur, mengendalikan dan mendisiplinkan anak-anaknya. Akan tetapi, lebih sulit tentunya bagi orang tua yang memiliki kesibukan tersendiri, seperti misalkan orangtua karir.

pengasuh mendisiplinkan anak anak

Pada orangtua yang bekerja, maka akan sedikit sulit untuk mereka bisa menghabiskan waktu penuh bersama dengan anak-anaknya. Hal ini dikarenakan, kesibukkan orangtua membuat mereka dituntut untuk menghabiskan sebagian besar waktunya ditempat bekerja dibandingkan dirumah. Pada akhirnya, hal ini membuat kontrolnya terhadap anak-anak menjadi kurang.

Hal ini pulalah yang membuat orangtua karir cenderung dihadapkan pada banyak tantangan yang membuat mereka kesulitan dalam mendisiplikan anak-anaknya dibandingkan dengan orangtua yang dirumah. Dimana mereka bisa mengambil andil penuh dalam kehidupan anak-anaknya. Jangankan untuk bisa mencurahkan segala perhatian pada anak-anak, menyisakan waktu untuk bersama dengan mereka saja, terkadang kita kesulitan.

Orangtua yang bekerja di kantor, umumnya akan memilih menggunakan jasa pengasuh anak untuk menjaga buah hatinya. Dengan menghadirkan pengasuh bayi, orangtua berharap agar buah hatinya bisa dijaga dan diasuh dengan baik.

Namun lain halnya dengan orangtua kandung, tugas pengasuh bayi hanyalah menjaga dan mengasuh. Tidak ada kewajiban bagi mereka untuk bisa mendidik buah hati kita agar mereka bisa menjadi apa yang kita harapkan. Namun demikian, ini bukan berarti anda tidak bisa menjalin kerja sama dengan si pengasuh bayi agar mereka bisa mendisiplinkan buah hati kita. Betapapun, memberikan yang terbaik untuk anak dan mengharapkan anak-anak tumbuh dengan kedisiplinan yang baik adalah hal yang amat didamba-dambakan oleh orangtuanya.

Untuk itulah, tidak ada salahnya jalin kerjasama bersama dengan si pengasuh anak dirumah. Namun demikian, hal ini bukan berarti anda bisa menyerahkan segala halnya pada si babysitter. Bagaimana pun, dalam hal ini harus ada peran orangtua dalam mendidik dan menerapkan kedisiplinan pada anak-anak. Sementara itu, pengasuh bisa meneruskan langkah kedisplinan yang anda terapkan. Lantas, seperti apa sih strategi yang bisa kita terapkan untuk menjalin kerjasama dengan pengasuh anak agar mereka bisa mengaplikasikan dan meneruskan pendidikan kedisiplinan yang kita ajarkan pada anak? Mari kita simak berikut ini.

Terapkan Aturan

Agar tercipta sebuah rutinitas yang baik didalam rumah, terutama pada anak-anak, maka sebuah aturan adalah hal yang penting yang harus diterapkan. Selain itu, sebuah aturan dibentuk untuk membatasi tingkah dan perilaku si anak. Akan tetapi, aturan ini tentunya harus dibuat dengan jelas dan diberlakukan sanksi bagi setiap pelanggaran yang dilakukan.

Ketika orangtua memberlakukan aturan, sebaiknya bertindaklah tegas pada anak-anak. Jangan karena anda merasa kasihan atau "terhibur" dengan kesalahan yang dilakukan oleh si anak, anda lantas membiarkan mereka lolos dari hukuman. Hal ini pada akhirnya, akan membuat si anak bingung. Disisi lain, aturan anda berlakukan, namun disisi lain ada begitu banyak toleransi yang anda berikan. Percayalah, hal ini malah akan membuat anak mengasumsikan bahwa aturan yang anda buat dibentuk semata-mata untuk dilanggar.

Tetapkan aturan dirumah seperti anak tidak boleh mengigit, memukul atau bahkan terlibat dengan perkelahian. Dari sini, anda bisa memberlakukan sanksi yang tegas untuk setiap pelanggaran yang dibuat. Seperti misalkan, tidak memberikan uang saku dan lain sebagainya. Sanksi yang dibuat tentunya haruslah mendidik dibandingkan dengan menghakimi atau menyakiti si buah hati.

Jagalah Agar Tetap Konsisten

Tanpa adanya aturan yang dibuat dengan konsisten antara pengasuh dan orangtua, anak akan merasa bingung. Peraturan yang anda buat dan disepakati bersama dengan pengasuh akan sia-sia, jika pada prakteknya hal ini tidak bisa diaplikasikan dengan jelas pada anak-anak. Meskipun pengasuh adalah pekerja dalam rumah yang diberikan tanggung jawab untuk mengasuh dan menjaga anak, namun berikan pemahaman pada anak bahwa pengasuh diberikan tanggung jawab yang sama dalam hal mendidik dan mendisiplinkan anak. Tanggung jawab ini sama saja dengan tanggung jawab yang dimiliki oleh orangtuanya. Untuk itu, pastikan jika anda bersama dengan pengasuh tetap bisa konsisten pada apa yang telah diberikan pada anak-anak. Dengan demikian, anak-anak akan memahami dan memiliki rasa hormat yang sama pada anda dan pada pengasuhnya ketika anda memberikan tanggung jawab tersebut pada mereka.

Jangan Berikan Hukuman Fisik atau Kekerasan

Dalam rangka mendisiplinkan buah hati, maka sebuah hukuman atau sanksi seringkali dianggap sebagai cara yang ampuh dalam mendidik anak-anak. Akan tetapi, dalam hal ini hukuman haruslah sesuatu hal yang mendidik. Jangan berikan anak hukuman fisik atau bahkan hukuman yang menuju pada kekerasan. Apalagi hal ini melibatkan si pengasuh anak. Jangan sesekali memberikan kesempatan pada pengasuh untuk mempraktikan hukuman keras pada anak anda. Hal yang dikhawatirkan dalam hal ini adalah timbulnya tindakan kontinue yang mungkin dilakukan si pengasuh.

Sebagai orangtua, hukuman yang kita berlakukan tentu bertujuan mendisiplinkan buah hati dan setelah hukuman tersebut selesai kita akan kembali mencintai dan memperlakukan anak sebagaimana mestinya. Akan tetapi, dipungkiri atau tidak, pengasuh adalah orang luar yang tidak memiliki hubungan saudara dengan kita dan si buah hati. Sekali ia membelakukan hukuman keras pada anak kita, maka dikhawatirkan hal ini menjadi tindakan yang terus dilakukan pada si kecil.

Berdiskusi dengan Pengasuh

Untuk dapat menjalin kerja sama dalam hal mendidik anak, maka orangtua perlu berdiskusi bersama dengan pengasuhnya. Banyak pengasuh dan tempat penitipan anak yang menawarkan beberapa metode untuk dapat mendisiplinkan anak-anak. Akan tetapi, orangtua bisa memutuskan sendiri metode seperti apa yang ingin ia terapkan untuk buah hatinya. Dari sini, segala bentuk kesepakatan akan bisa anda buat bersama dengan si pengasuh dalam rangka membantu anda untuk menerapkan aturan yang anda buat bagi si kecil.

Kerja sama yang baik yang terjalin antara orangtua bersama dengan pengasuh serta guru yang menddik anak akan menjadikan penerapan kedisiplinan dalam diri anak-anak semakin efektif. Dengan demikian, meskipun anda sibuk bekerja dan banyak menghabiskan sebagian besar waktu diluar rumah tanpa berdekatan bersama dengan si kecil, namun demikian tidak serta merta membuat anda tidak bisa mendisiplinkan mereka. Demikian beberapa poin diatas semoga bermanfaat.

Kenali Dampak Buruk Dari Pola Asuh Hyper Parenting Pada Anak

Posted: 20 Sep 2015 11:24 PM PDT

Setiap orangtua tentu menginginkan hal-hal yang terbaik untuk buah hatinya.

Orangtua tentu menginginkan anak-anak yang mereka lahirkan ke dunia dapat tumbuh menjadi anak-anak yang sukses, cerdas dan menjadi pribadi yang menyenangkan untuk lingkungannya. Mereka ingin bahwa anak-anak mereka dapat hidup bahagia, memiliki karir yang bagus, berperilaku menyenangkan dan lain sebagainya.

Sayangnya, tidak semua orangtua memahami bahwa masing-masing anak memiliki kepribadian, karakter dan bahkan cita-cita yang berbeda. Sehingga, tidak bisa jika seorang orangtua memaksakan kehendaknya dan menerapkan pola pengasuhan yang sama rata pada semua anak dengan mengganggap bahwa pola pengasuhan sebelumnya telah berhasil mereka terapkan untuk anak-anaknya.

Seringkali kita sebagai orangtua memkasakan kehendak dan keinginan kita pada anak-anak tanpa mempertimbangkan kemampuan, kesiapan dan perasaan anak-anak dengan dalih ingin jika anak-anak kita mendapatkan hal yang terbaik untuk kehidupannya. Inilah yang terjadi pada orangtua yang menerapkan pola asuh hyper parenting.

dampak buruk hyper parenting

Apa Itu Pola Asuh Hyper-Parenting?

Hyper-parenting merupakan pola pengasuhan yang dilakukan dengan kontrol berlebihan dari orangtua. Dalam pola pengasuhan ini, orangtua memiliki derajat kontrol yang mutlak dan tinggi terhadap anak-anaknya. Pada pengasuhan ini, orangtua berusaha keras untuk mencermati apapun yang dilakukan oleh anak-anak dan segala hal yang diberikan kepada anak-anak mereka. Tentunya hal ini dilakukan dalam rangka untuk mengatisipasi berbagai permasalahan yang mungkin dapat terjadi baik saat ini maupun dimasa yang akan datang.

Adapun tujuan dan maksud orangtua yang cederung menerapkan pola pengasuhan seperti ini didasari oleh rasa sayang dan cinta kasih terhadap anak-anaknya. Selain itu, besarnya keinginan orangtua agar sang anak bisa menjadi generasi yang lebih baik, terutama jika mereka bandingkan dengan keadaan dirinya terdahulu menjadi hal yang mendorong mereka untuk cenderung lebih protektif terhadap anak-anaknya. Hanya saja, dalam pola pengasuhan seperti ini, orangtua memiliki tingkat kecemasan yang terlalu tinggi, sehingga cenderung mereka lebih mengejar hal tersebut dengan alasan yang emosional.

Umunya, pola pengasuhan hyper-parenting dipengaruhi karena orangtua mereka merasa tidak puas dengan pola pengasuhan yang mereka dapatkan sewaktu masih kecil. Bisa jadi orangtua merasa tidak puas dengan pencapaian karir atau kehidupannya secara keseluruhan. Akibatnya, hal ini melahirkan semua obesesi ditambah dengan ketidakberuntungan itu yang dibebankan pada anak-anaknya saat ini.

Dengan menerapkan pola pendidikan seperti ini orangtua merasa anak-anak mereka bisa mendapatkan apa yag sebelumnya tidak mereka dapatkan. Akan tetapi, belum tentu hal ini akan sesuai dengan kebutuhan, minat, bakat atau bahan keinginan si buah hati.

Pada orangtua yang menerapkan hal ini, anak-anak akan cenderung merasa lebih cemas dan khawatir. Betapa tidak, pola pengasuhan orangtua yang terlalu mengatur dan memaksakan kehendaknya akan membuat anak-anak tidak percaya diri.

Sebenarnya, wajar saja jika orangtua berharap anak-anak mereka dapat mewujudkan keinginannya. Akan tetapi, kita pun perlu tahu bahwa memaksakan kehendak bukanlah jalan yang terbaik untuk menyelesaikan masalah. Ada dampak fatal yang akan ditimbulkan pada anak-anak, yakni dapat menghambat pada pertumuhannya, selain itu juga dapat meimbulkan kemarahan yang berlebihan dikarenakan anak-anak merasa tidak memiliki kebebasannya.

Selain beberapa hal diatas, ada pula beberapa hal dan dampak buruk lain yang bisa ditimbulkan pada orangtua yang menerapkan pola pengasuhan hyper parenting. Apa sajakah hal tersebut? Mari kita simak berikut ini.

1. Membuat Anak Mudah Cemas

Dengan menerapkan pola pengasuhan ini, hidup anak akan cenderung menjadi tidak tenang. Betapa tidak, pengaturan yang berlebihan dan pola mendidik anak dengan terus-terusan mengikut sertakan orangtua didalamya akan serta merta membuat anak cemas. Terlebih lagi, anak-anak cenderung seringkali merasa kurang percaya diri atau kurang bebas mengekspresikan dirinya sewaktu orangtua mereka bertindak seolah menyatpaminya.

Untuk itulah, memang wajar memberikan dukungan pada anak dengan terus berada disamping mereka. Akan tetapi, tidaklah bijak jika anda memaksakan kehendak anda pada anak-anak. Biarkan anak memilih apa yang mereka inginkan. Dengan begini anak-anak akan dapat menjalaninya dengan senang hati.

2. Emosi Anak yang Mudah Meledak

Pengaplikasian pola pengasuhan hyper-parenting umumnya lebih cenderung membuat orangtua seringkali mendikte anak dan memberikan banyak perintah dan meminta mereka untuk dapat mematuhi keinginan orangtuanya. Hal inilah yang pada akhirnya, membuat anak menjadi cenderung kaku.

Selain itu, banyak tekanan yang akan mereka dapatkan dari orangtuanya, terutama ketika perintah atau keinginan orangtua tidak sesuai dengan apa yang mereka sukai. Hal ini yang pada akhirnya akan membuat emosi anak cepat meledak.

3. Anak Menjadi Kurang Aktif

Kebiasaan yang selalu "diarahkan" dan "didikte" membuat anak-anak hanya akan terbatasi. Kebiasaan oragtua yang memberikan perintah atau menekankan kehendaknya pada anak, membuat mereka terus-terusan terbatas pada apa yang anda harapkan. Tanpa anda sadari, hal inilah yang membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang kurang kreatif. Berbeda dengan anak-anak yang diberikan pola pengasuhan yang lebih baik, seperti halnya anak-anak yang diasuh dalam pengasuhan demokrasi. Anak-anak dalam hal ini akan cenderung lebih bebas dan lebih ceria, karena diberikan ruang untuk berekspresi namun dengan tidak menghilangkan pengawasan dari orangtua. Anak-anak yang seperti ini tentunya menjadi lebih kreatif dan cerdas.

4. Depresi Pada Anak

Tidak menutup kemungkinan, anak-anak yang seringkali disibukkan dengan berbagai kegiatan dan tugas yang diberikan oleh orangtuanya dalam rangka "me-manage" anak, akan mencetak pribadi yang murung, kurag ekspresif dan bahkan sulit mendapatkan teman. Hal ini tentunya, masuk akal jika mengingat anak-anak yang dibebani dengan tugas dan kegiatan yang menumpuk membuat mereka cenderung lebih sibuk dengan kegiatannya dan membuat mereka perlahan mengabaikan dunia sosialnya.

5. Kesehatan yang Terganggu

Jelas sudah, anak-anak yang diberikan banyak tugas seperti les, bimbingan belajar dan masih banyak kegiatan lainnya, membuat tenaga maupun pikiran anak terkuras. Lambat laun, energi anak akan berkurang dan tak lagi mampu untuk menghadapi kegiatan segudang yang diberikan oleh orangtua mereka.

Meskipun menginginkan yang terbaik untuk anak-anak, namun bukan berarti anda bisa mengabaikan dampak buruk dan sisi negatif yang bisa mereka hadapi dari pola pengasuhan yang seperti ini. Orangtua juga perlu mempertimbangkan hal ini demi kebaikan anak secara keseluruhan.

Menerapkan pola asuh yang terbaik adalah kunci dari keberhasilan orangtua dalam mendidik anak menjadi generasi bangsa yang lebih baik dan berkualitas. Untuk itu, mengenali dampak baik dan buruk yang mungkin ditimbulkan pada sebuah pola pengasuhan adalah modal awal untuk bisa menentukan pola pengasuhan seperti apa yang akan anda berikan pada buah hati tercinta.

Tips Mengajarkan Etika Bermain Sewaktu Si Kecil Berada di Rumah Temannya

Posted: 20 Sep 2015 11:23 PM PDT

Dunia anak adalah dunia bermain.

Memiliki banyak teman dan hari-hari yang diisi dengan penuh candaan dan gurauan bersama dengan sahabat kecilnya adalah hal yang menyenangkan untuk si kecil. Kegiatan inilah yang paling sering menjadi kegiatan yang paling ditunggu untuk si buah hati. Itulah mengapa, anak-anak akan cenderung lebih menikmati harinya jika ada begitu banyak teman-temannya dirumah maupun bermain diluar rumah.

Bermain bersama dengan teman-teman dan lingkungannya banyak memberikan hal yang positif untuk si buah hati. Dengan bermain, ia akan belajar sendiri bagaimana berinteraksi dengan lingkungan dan teman-temannya. Selain itu, kemampuan anak untuk dapat bersosialisasi akan dapat diasah disini. Anak-anak yang memiliki banyak teman akan cenderung lebih aktif dan ceria, pasalnya mereka akan dapat belajar untuk berbagi dan saling memahami. Selain itu, kemampuan mereka dalam berkomunikasi dan bersosialisasi membuat mereka belajar sejak dini untuk dapat mengasah kemampuannya berinteraksi dengan lingkungannya. Bukan hanya itu, ada lebih banyak hal positif yang akan didapatkan oleh si anak, diantaranya anak-anak diajarkan untuk berbagi mainan, belajar bagaimana bersabar dalam bergantian permainan, mengantri dan lain sebagainya.

etika anak bermain dirumah

Sewaktu kita ibu mendapati anak-anak bisa bermain dan berbaur dengan teman-temannya. Hal ini akan tentu saja membuat orangtua senang. Anak-anak yang bisa menikmati bermain bersama dengan teman, akan membuat orangtua lebih tenang dalam menyelesaikan dan mengerjakan tugas pekerjaan rumah tangganya. Ketika si kecil menikmati bermain bersama dengan teman-temannya, ibu tentu tidak akan dibuat khawatir dengan rengekan si kecil sewaktu mencuci atau memasak di dapur. Dengan begini pula ibu bisa tetap fokus membersihkan rumah sementara anak-anak tetap bisa bermain dengan gembira.

Mengajarkan sopan santun bukan hanya penting diterapkan pada orang dewasa, pendidikan penting ini pun harus senantiasa diberikan pada anak-anak sejak mereka masih kecil. Begitupun dalam hal bermain, meskipun dunia anak adalah dunia bermain. Akan tetapi, penting juga mengajarkan etika bagi anak agar mereka memiliki aturan yang harus dipertimbangkan, terutama saat anak-anak bermain dirumah temannya.

Kegiatan bermain ini tentu saja harus menjadi hal yang menyenangkan dan menggembirakan untuk anak. Untuk itulah mengajarkan etika pada anak sewaktu mereka bermain dirumah temannya tidak serta merta membuat mereka terbatasi dan merasa tertekan dengan aturan yang kita berikan pada anak-anak.

Yang terpenting dari hal ini adalah anak-anak harus dapat memahami tujuan dari pelajaran etika yang ibu berikan. Dengan demikian, ketika tujuan tersebut ditangkap dan dipahami dengan baik, maka anak-anak akan lebih mudah untuk mengaplikasikan hal tersebut dibanding menerapkannya dengan susah payah.

Nah, untuk membantu ibu dalam memberikan batasan dan mengajarkan etika pada anak-anak sewaktu mereka bermain dirumah temannya, maka kita simak beberapa tips dibawah ini.

Ajarkan Anak Untuk Punya Batasan Waktu

Bermain dan bercanda bersama dengan teman-teman, seringkali membuat seseorang mengabaikan waktu. Hal ini bukan hanya terjadi pada orang dewasa, anak-anak pun akan cenderung mengalaminya. Apalagi, saat mereka tenggelam dalam asyiknya kegiatan bermain yang mereka jalani. Hal inilah yang pada akhirnya, seringkali membuat si anak kesulitan atau enggan sewaktu diajak pulang.

Respon yang diberikan si anak pun umumnya berbeda, untuk sebagian anak ada yang hanya merengek atau menangis sewaktu diminta pulang. Namun, ada apula anak-anak yang cenderung memberikan respon ekstreme dengan mengamuk dan meronta ditempat bersangkutan. Nah, ketika hal ini terjadi, orangtua atau dalam hal ini terutama ibu, akan kesulitan mengatasi si anak. Belum lagi, hal ini akan mungkin membuat ibu merasa malu, terutama saat si anak mengamuk dihadapan orangtua temannya.

Nah, untuk mengatasi hal ini, maka sebaiknya sebelum anak hendak pergi ke rumah temannya. Berikan kesepakatan bersama dengan si anak agar mereka bisa memiliki batasan waktu. Ajarkan pada anak agar seberapa serunya permainan yang mereka rasakan bersama dengan teman-temannya, namun ketika tiba waktunya pulang, maka saat itu pula mereka harus segera pulang.

Misalkan, ketika anak bermain bersama dengan temannya, berikan batasan waktu untuk mereka selama kurang lebih 3-4 jam. Setelah itu, ingatkan anak ketika waktu telah habis, maka mereka harus segera pulang. Atau sebelum benar-benar habis, anda bisa memberikan waktu misalnya 10 atau 15 menit. Nah, jika anak anda menolak, ingatkan pada anak bahwa ada konsekuensinya. Dengan begini, diharapkan anak-anak merasa jera.

Ajarkan Anak Untuk Tidak Bermain di Kamar atau Melompat di Atas Sofa

Bermain dirumah teman, terkadang tak jarang membuat si tuan rumah mengelus dada sewaktu melihat anaknya dan anak kita bermain didalam kamar atau saat mereka melompat-lompat diatas sofa dengan kegirangan sewaktu mereka tengah bercanda. Nah, untuk itulah upayakan sebisa mungkin  agar anda bisa mengajarkan pada anak, agar mereka tidak memasuki ruangan pribadi tuan rumahnya, seperti kamar atau ruangan lainnya. Beritahukan pula pada mereka bahwa bermain diatas sofa tidaklah diperkenankan.

Ajarkan Anak Untuk Berbicara Sopan

Si kecil perlu diajarkan untuk berperilaku dan berbicara sopan kepada orang yang lebih tua dan oranglain, termasuk dalam hal ini adalah si tuan rumah dan orang-orang yang ada didalamnya. Mungkin ada beberapa kondisi yang membuat si kecil tak dapat bermain didalam rumah si temanya, seperti dikarenakan orangtuanya sakit atau mungkin ada anggota keluarga si temannya yang merasa tak ingin diganggu.

Untuk itulah, usahakan agar anak memaklumi dan mengerti. Buat mereka untuk tidak memaksakan kehendakanya. Sebaliknya, untuk menghargai oranglain buat anak agar bermain di tempat lain selain didalam rumah. Hanya saja, jika anak anda masih terlalu kecil, sebaiknya ketika anda meminta mereka untuk bermain diluar rumah, pastikan jika pengawasan anda terhadap si kecil tetap dijaga. Hal ini semata-mata demi kebaikan dan keselamatan buah hati.

Ajarkan Anak Untuk Tidak Menginterupsi Pembicaraan

Kehadiran anak-anak dirumah oranglain, yakni rumah temannya tidak selamanya dinikmati oleh si tuan rumah. Adakalanya, orangtua teman si kecil tengah sibuk. Ketika si kecil meminta sesuatu pada orangtua temannya apalagi saat mereka tengah sibuk, hal ini tentu akan mengundang masalah. Baik bagi si kecil maupun anda sebagai orangtuanya. Seringkali hal ini akan membuat jengkel si tuan rumah, yang pada akhirnya si buah hati akan mendapatkan predikat buruk seperti misalkan predikat "anak bandel".

Nah untuk menghindari hal ini, sebaiknya ajarkan anak untuk menjaga sikapnya. Ketika mereka membutuhkan sesuatu seperti misalkan meminta minum, minta diantar pulang dan lain sebagainya. Maka ajarkan mereka untuk membaca situasi terlebih dulu.

Ketika si tuan rumah sedang sibuk berbicara di telepon, sebaiknya si anak tidak menginterupsi pembicaraan tersebut. Mintalah anak menunggu sebentar hingga si tuan rumah terlihat santai. Dengan begitu anak-anak akan diajarkan bagaimana caranya bersabar dan melatih etikanya dimasyarakat.

Mengasuh dan merawat anak-anak, terutama mereka yang masih kecil seringkali menjadi hal yang gampang-gampang susah. Belum lagi, kegiatan ini memerlukan kesabaran yang ekstra. Akan tetapi, dengan kerjasama dan pengertian diantara orangtua untuk dapat  saling mendukung perkembangan dan kemampuan sosial di kecil, termasuk dalam hal ini sewaktu mereka bermain dirumah temannya akan membuat mereka bisa menikmati masa kecilnya yang indah dan ceria. Semoga tips diatas bermanfaat untuk anda dalam mendidik si buah hati.

Title : Bidanku.com
Description : Bidanku.com Pertimbangkan Beberapa Hal Ini Sewaktu Memberikan Larangan "Tidak" Atau "Ja...

0 Response to "Bidanku.com"

Posting Komentar