Bidanku.com

Bidanku.com

Link to Bidanku.com

Tips Membangun Komunikasi yang Baik dan Efektif Bersama dengan Buah Hati

Posted: 20 Oct 2015 10:40 PM PDT

Dikaruniai dengan keluarga yang utuh dan bahagia, tentu menjadi dambaan untuk setiap orang yang sudah menikah dan berkeluarga.

Betapa tidak, keluarga yang harmonis dan saling memahami serta saling mencintai satu sama lain didalamnya akan menumbuhkan kebahagiaan dan membuat siapa saja merasa betah tinggal dan berada dirumah. Rasanya, fungsi dari rumahku istanaku akan bisa didapatkan dari keluarga yang seperti ini.

Ketika Ada Masalah Di Sekolah, Siapa yang Harus Dipercaya? Anak atau Gurunya?

Posted: 20 Oct 2015 10:40 PM PDT

Bunda, pernahkan anda menjumpai kasus dimana bunda mendapatkan laporan yang berbeda dari buah hati anda yang bersekolah dengan laporan yang diberikan oleh gurunya?

Bentuk Kepribadian yang Baik, Orangtua Perlu Berikan Kepercayaan Pada Anak

Posted: 20 Oct 2015 10:40 PM PDT

Setiap anak yang lahir ke dunia, diberikan kekurangan dan kelebihan oleh Tuhan.

Yang mana kedua hal ini adalah untuk disyukuri dengan cara menerima kekurangan yang telah diberikan dan mengembangkan kelebihan yang telah Tuhan anugerahkan dalam kehidupan si anak.

Ketahui Beberapa Cara Ungkapan Sayang dan Cinta Buah Hati Pada Anda

Posted: 20 Oct 2015 10:39 PM PDT

Memiliki buah hati ditengah-tengah keluarga tercinta yang begitu anda banggakan, tentu menjadi kebahagian yang besar.

Apalagi kehadiran si buah hati ini adalah doa panjang yang lewat perjuangan keras baru saja anda dapatkan. Tentu saja, cinta anda kepada si buah hati akanlah sangat besar. Tak heran jika anda akan begitu sangat memperhatikan dan mengawasi si buah hati dengan sangat seksama. Cinta yang begitu besar kepada si buah hati inilah yang membuat anda akan merasa khawatir jika si kecil berada dalam bahaya atau ada suatu hal yang bisa mengancam keselamatannya.

Saat Anak Mengeluh Sakit dan Tak Mau Sekolah Apa yang Harus Dilakukan?

Posted: 19 Oct 2015 11:51 PM PDT

Bunda, pernahkah anda mendapati si buah hati mengeluhkan sakit kepala dan lantas menganjurkan diri agar ia tak masuk sekolah?

Atau barangkali, saat bunda tengah menyiapkan sarapan di dapur tiba-tiba si kecil merengek menghampiri dan mengeluhkan perutnya sakit dan manyatakan tak ingin pergi ke sekolah? Nah, setelah mendengar keluhan ini, lantas biasanya seperti apa sih respon bunda di rumah?

Ya, tidak sedikit anak-anak yang seringkali mencoba mencari alasan dengan menggali berbagai macam trik agar mereka bisa melewatkan pergi ke sekolah. Jangankan untuk alasan tertentu, untuk disuruh pergi ke sekolah saja, tiap pagi bunda seringkali dibuat kesusahan saat harus membangunkan si buah hati.

Berbagai alasan diungkapkannya supaya orangtua bisa memakluminya untuk tidak pergi ke sekolah. Ada yang menyatakan sakit seperti diatas, atau bahkan tiba-tiba si anak menunjukan sikap kepayahan disertai dengan batuk-batuk ringan. Dari sikap ini, tak jarang, ibu pun memakluminya untuk sekali waktu. Namun, bagaimana jika ternyata setelah alasan ini, esok hari dan seterusnya si anak masih tidak ingin pergi ke sekolah? Bahkan sampai menggali lebih banyak alasan agar bunda bisa mengizinkan mereka untuk tetap dirumah dan tidak pergi ke sekolah. Nah, tentu saja bunda harus bisa mengetahui dengan pasti apa sih penyebab sebenarnya yang membuat si anak tak ingin pergi ke sekolah.

ketika anak tak mau sekolah

Sikap si anak yang tiba-tiba tak ingin bersekolah ini, umumnya bisa datang kapan saja dan terjadi pada berbagai rentang usia, yakni pada anak-anak masih balita, usia TK, di bangku preschool atau bahkan saat anak sudah masuk di bangku Sekolah Dasar yang mana seharusnya mereka mulai terbiasa dengan rutinitas sekolahnya setiap hari. Akan tetepi, bersikap memanjakan anak dengan menuruti keinginannya untuk tidak masuk sekolah, tentunya bukanlah sikap yang bijak dilakukan oleh seorang orangtua. Namun disamping itu juga, memarahi anak yang tidak ingin pergi ke sekolah dan lantas memaksanya untuk tetap pergi tanpa diketahui sebab pasti dari alasan tersebut, bukan pula tindakan yang bijak dan tak lantas membuat membuat anak langsung menurut. Tak ayal, hal ini seringkali membuat para orangtua kebingungan dan tak tahu harus berbuat apa untuk menghadapi buah hatinya.

Namun, tahukah bunda, kondisi anak yang tak mau bersekolah ini umumnya bisa disebabkan oleh berbagai alasan dan latar belakang. Penyebabnya bisa jadi dipicu dari faktor internal atau diri sendiri dan faktor eksternal atau dari faktor luar, seperti oranglain. Nah, jika penyebabnya berasal dari faktor internal atau dirinya sendiri alasan yang dituai biasanya seputar, sakit perut, saki kepala, malas atau bahkan si anak yang kelelahan. Sementara itu, jika faktor eksternal bisa jadi dari lingkungannya seperti dijauhi teman, pelajaran sekolah yang sulit dipahaminya, guru yang tidak disenanginya dan masih banyak lagi.

Namun demikian, agar alasan yang dituai bisa diketahui dengan pasti serta ibu bisa menentukan sikap apa yang harus dilakukan untuk menghadapi anak-anak yang mengeluh sakit dan tak mau pergi kesekolah, berikut ini beberapa tips penting yang bisa dipelajari.

1. Lakukan Pemeriksaan Manual Jika Anak Mengeluh Sakit

Ketika anak anda mengeluhkan sakit di pagi hari saat anda meminta anak untuk pergi sekolah. Memang seringkali hal ini membuat orangtua bingung harus menghadapinya. Untuk itulah, ketika anak mengeluh sakit, untuk memastikan alasannya masuk akal dan benar, lakukan pemeriksaan secra manual. Seperti misalkan, ketika anak mengeluh lemas dan kepalanya panas, maka anda bisa langsung memegang kepalanya dan melihat gejala-gejala lain yang mungkin menunjuk pada sakit yang sesungguhnya. Dari sini, anda bisa melihat dan menentukan apakah alasannya tersebut benar atau hanyalah alasan yang ia buat semata karena dirinya malas untuk pergi ke sekolah.

2. Lakukan Konfirmasi dengan Pihak Sekolah

Hal ini penting sekali, tentunya bisa dilakukan setelah anda mengetahui bahwa anak hanya mengungkapkan alasan saja. Tanyakan pada pihak sekolah, baik datang secara langsung maupun lewat telepon jika anda merasa tak bisa datang ke sekolah. Anda bisa menanyakan pada wali kelasnya dan memastikan jika anak tidak memiliki masalah di sekolahnya baik dengan teman-temannya atau dengan guru.

Selain itu, pastikan bahwa tidak ada ulangan atau tes tertentu yang ingin dihindari oleh si anak. Beberapa alasan menyangkut test dan pelajaran yang diberikan dari sekolah bisa jadi membuat si anak malas dan enggan untuk pergi ke sekolah, untuk itulah pastikan jika anda mengetahui dengan pasti alasan ia tak ingin pergi ke seklah.

3. Berikan Tawaran Untuk Memanggilkan Dokter

Biasanya anak-anak yang menjadikan sakit sebagai alasan belaka agar mereka tak pergi ke sekolah, akan cenderung melakukan penolakan saat dihadapkan pada dokter, hal ini tentunya lebih kentara dibandingkan dengan anak yang benar-benar sakit. Dari sini tentunya anda akan dapat menentukan jika anak anda benar-benar sakit atau hanya beralasan.

4. Tindakan Ketika Anak Benar-Benar Sakit

Bukan tidak mungkin alasan yang diberikan si anak adalah kebenaran. Nah, jika anda mendapati si buah hati benar-benar sakit, maka segera berikan informai ke sekolahnya bahwa si kecil tidak dapat mengikut pelajaran. Biasanya anda bisa langsung menghubungi pihak sekolah via telepon atau melalui surat. Dan setelah itu, bawa segera si kecil ke dokter untuk mendapatkan perhatian medis. Penanganan yang lebih cepat tentunya akan mampu membuat segala kemungkinan buruk teratasi.

5. Bicara dengan Si Buah Hati

Saat ini mungkin memang si anak sakit sungguhan, namun disaat bersamaan bisa jadi ia pun menghadapi masalah di sekolahnya. Nah, dari sinilah anda bisa melakukan pendekatan bersama dengan si buah hati.

Bicarakan dan ajak mereka untuk mencurahkan keluhannya. Buat anak jangan sungkan dan jangan takut untuk membicarakan semuanya bersama dengan anda. Ketika anda mendapati anak-anak bermasalah dengan teman-temannya, maka ingatkan anak untuk mau mengalah dan meminta maaf. Jika anda mendapati anak tak suka dengan salah satu guru mata pelajaran, maka berikan pengertian pada anak, perlahan namun pasti anak untuk perlahan lebih terbuka. Bisa jadi, ketidak sukaan anak pada mata pelajaran tersebut dikarenakan sifat guru yang galak atau bahkan menyebalkan. Dari sini minta anak untuk lebih bersabar dan menghindari segala kemungkinan masalah yang akan terjadi.

Anak-anak yang malas untuk pergi ke sekolah memang akan memberikan banyak alasan, mulai dari sakit, malas dan lain sebagainya. Akan tetapi, ketika anak mengeluh dan merengek biasanya bunda dibuat bingung menentukan sikap si anak apakah alasan tersebut ebnar atau tidak. Nah, untuk itulah beberapa hal diatas diharapkan bisa membantu bunda dalam menghadapi anak-anak yang mengeluh sakit dan tak mau pergi ke sekolah. Semoga tips ini bermanfaat bagi bunda dalam menjaga dan menghadapi si kecil.

Bantu dan Ajarkan Balita Atasi Masalahnya Sendiri

Posted: 19 Oct 2015 11:51 PM PDT

Ketika anak bertengkar bersama dengan teman-temannya dan anda mendapati mereka saling marah dan menjauhi satu sama lain.

Maka sebaiknya jangan terburu-buru untuk menghampiri anak dan menanyakan apa yang terjadi, lalu setelah itu melerai permasalahan antar keduanya.

Ya, seringkali sebagai orangtua dari anak balita, kita seringkali dibuat khawatir saat anak-anak terjebak pertentangan dan adu argumentasi, pada akhirnya anda akan langsung menyelesaikan masalahnya dan melerai pertengkaran tersebut dengan alasan anak-anak yang masih begitu kecil belum bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Bahkan beberapa mengatakan bahwa jangankan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, untuk mengurus dirinya sendiri saja anak-anak belum mampu.

ajarkan balita atasi masalahnya sendiri

Namun siapa bilang demikian? Ketika anak besar kelak, mereka dituntut untuk dapat menyelesaikan masalah sendiri bukan? Nah, untuk itulah tidak ada salahnya jika hal tersebut diajarkan sejak mereka usia dini. Bukankah pengajaran sejak dini akan jauh lebih berguna dibandingkan saat mereka sudah besar kelak? Untuk itulah, saat anda sudah melihat anak-anak sudah memiliki kemampuan untuk berpikir dan mengalirkan keinginannya, maka tidak ada salahnya melatih dan membantu mereka untuk dapat memecahkan masalahnya sendiri.

Ketika anda sudah cukup bijaksana untuk mengatasi masalahnya sendiri, anda tentu akan merasa senang. Bukan saja itu, anak anda pun akan belajar berbagai hal seperti bagaimana untuk dapat tetap tenang, berpikir rasional ketika ada masalah dan bahkan bisa menjadi "wasit" ketika menghadapi teman-temannya bertengkar. Dengan demikian, saat anak dibekali dengan kemampuan ini, maka akan lebih tenang bagi anda melepaskan mereka dilingkungan seikitarnya, khususnya lingkungannya bermain.

Untuk itulah, ketika anda bertengkar bersama dengan teman-temannya, jangan lantas terburu menghampiri anak dan menghakiminya. Tidak selamanya pertengkaran ini membawa dampak buruk kok, sebaliknya hal ini bisa dijadikan kesempatan untuk anak untuk belajar bagaimana mengatasi masalahnya sendiri. Hanya saja, pengawasan anda dari anak-anak tentunya tidak boleh lengah, apalagi ketika anak mulai terlihat memanas. Anda perlu sesekali menjadi jembatan anak balita anda agar mereka bisa mengarahkan kekesalannya menjadi sebuah perdamaian yang diharapkan seiring dengan berjalannya waktu kemampuan anak dalam menyelesaikan masalah bisa menjadi lebih baik.

Anak-anak yang dibekali dengan kemampuan menyelesaikan masalah saat mereka dewasa kelak akan tentu saja melahirkan sikap yang tenang, lebih sabar dan membuat mereka mudah diterima dengan lingkungannya. Selain itu, anak-anak dengan kemampuan ini akan tumbuh menjadi seseorang yang bersahaja dengan tidak senang mendekati sumber masalah dan permasalahan.

Anak-anak yang memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah tentunya akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih mandiri, yang mana tentunya hal ini akan membuat anda merasa senang memiliki anak yang demikian bukan? Untuk itu, yuk bantu dan dukung anak belajar menyelesaikan masalahnya sendiri.

1. Bantu Anak Identifikasi Masalahnya

Langkah pertama yang penting diberikan pada anak anda adalah dengan membantu anak mengidentifikasi masalahnya sendiri. Hal ini adalah hal penting yang perlu dilakukan pertama, dengan mengetahui masalah yang sesungguhnya anda akan dapat membantu anak untuk menentukan hal yang selanjutnya bisa ia lakukan. Misalkan ketika anak bertengkar dengan temannya, minta anak untuk duduk bersabar dan tanyakan masalah apa yang sebenarnya terjadi, jika masalahnya dipicu karena salah paham, maka anda bisa meminta anak untuk kembali bersama dengan teman-temannya dan bermain bersama kembali.

2. Usahakan Untuk Tidak Ikut Campur

Ketika anak menengahi pertengkaran teman-temannya. Maka, coba hargai pendapat anak dan berikan mereka kepercayaan bahwa ia akan dapat menemukan solusinya. Berikan anak anda waktu untuk dapat menengahinya. Meski tak jarang hal ini akan membuat ia berlari dan meminta bantuan orang dewasa untuk dapat menyelesaikan konflik, akan tetapi tetap berikan ruang dan kepercayaan.

Ketika anda datang menghampiri anda untuk meminta bantuan agar bisa menengahi pertengkaran temannya, cobalah ajukan beberapa pertanyaan padanya. Dengan begini, umumnya anak-anak akan dapat menerima solusi yang diusulkan oleh orang dewasa. "Kalo kata ibu sih, daripada kalian bertengkar gara-gara ingin satu kelompok, lebih baik bermain bersama-sama sayang."

3. Bantu Si Anak Balita Memiliki Empati

Anak dengan usia 3-4 tahun sudah mulai bisa menunjukan rasa empatinya terhadap oranglain. Jadi, jangan heran ketika ia melihat kucing atau temannya disakiti ia akan menangis atau kesal. Akan tetapi, terkadang juga masih muncul sifat egosentrisnya pada si anak. Nah, untuk mengasah kemampuan si anak mengenali perasaan oranglain, maka ajaklah balita anda untuk mengenali bahasa tubuh dan ekspresi yang dimunculkan oleh temannya. Dari sini, anak-anak akan bisa menghindari dan menentukan perbuatannya terhadap oranglain sehingga masalah bisa dihindari.

4. Asah Kemampuan Si Anak Balita

Asah kemampuan balita anda untuk dapat memilah dan milih situasi dengan mengajukan sebuah pertanyaan. Hal ini tentunya dilakukan untuk mengetahui apa yang terjadi dan menghindari pertengkaran pada si anak yang akan memicu masalah. Seperti misalkan, tanyakan apa yang terjadi, mengapa masalah tersebut terjadi dan lain-lain.

Nah, jika balita anda masih mengalami kesulitan untuk menemukan solusi dalam menyelesaikan masalah, maka berikan mereka pilihan solusi. Misalkan, tanyakan apakah anak anda ingin meminta temannya bergantian atau meminta permanan lain yang bisa dilakukan berdua. Selain itu, tanyakan pula alasannya mengapa anak anda memilih cara tersebut.

5. Selesaikan Masalah dengan Ajak Balita Anda Berbicara

Berikan pehaman pada balita anda tentang bagaimana menyelesaikan masalah yang baik. Tidak perlu ada agresi fisik seperti memukul, mencubit atau bahkan mengigit. Penyelesaian masalah bisa dilakukan dengan dialog.

Cara ini mungkin akan terdengar sulit dilakukan anak balita, aka tetapi balita akan dapat memilih cara penyelesaian solusi ini jika ada dukungan dari orangtua. Anda juga harus mampu memberikan contoh pada mereka bagaimana menghadapi konflik dengan baik.

Berikan contoh pada anak tentang bagaimana mengontrol sikap. Anda juga bisa menyelesaikan masalah yang melibatkan balita anda dengan membawa mereka dan mengajaknya untuk berdiskusi. Cara ini diharapkan bisa ditiru oleh si balita dan diserapnya untuk kemudian bisa ia aplikasikan dalam kehidupan nyatanya.

Meskipun masih kecil dan tumbuh dalam tubuh balita, bukan berarti anak-anak tidak memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Asal ada usaha dan bantuan serta dorongan dari orangtua untuk melakukannya, maka perlahan namun pasti si balita akan belajar bagaiman caranya menyesaikan sebuah konflik. Memang hasil yang diraih tidak akan sempurna, akan tetapi proses lah yang harus dinilai bukanlah hasil akhirnya. Demikian beberapa cara diatas semoga bisa menjadi panduan dan referensi untuk anda.

Agar Aman dan Nyaman, Inilah Tips yang Bisa Dilakukan Ketika Bunda Harus Menitipkan Buah Hati

Posted: 19 Oct 2015 11:50 PM PDT

Sebaik-baiknya pengasuhan anak adalah pengasuhan orangtua di rumah.

Terutama dalam hal ini dilakukan oleh ibunya sendiri. Dengan pengasuhan yang langsung dilakukan oleh ibu, semua kebutuhan dan segala perawatan yang diinginkan akan bisa dilakukan dengan baik.

Akan tetapi, bagaimana jika keadaannya tidak memungkinkan seorang ibu untuk bisa menjaga si buah hati dirumah dengan sepenuhnya? Hal ini umumnya banyak dialami oleh ibu yang bekerja, wanita karir atau dalam keadaan dimana seorang ibu rumah tangga terdesak harus pergi keluar rumah yang dengan alasan tertentu tidak bisa membawa serta buah hatinya.

Inilah salah satu dilema yang banyak dialami beberapa wanita yang memiliki kesibukan diluar rumah. Meski rasa cintanya begitu besar kepada si buah hati, akan tetapi apa daya ketika kewajiban dan kebutuhan menuntut mereka untuk berada jauh dari rumah dan meninggalkan buah cintanya. Alhasil, menitipkan anak banyak dipilih sebagai solusi untuk menjaga keselamatan si buah hati.

menitipkan anak

Ibu yang memiliki kesibukan diluar rumah dan terpaksa harus meninggalkan buah hati tercintanya yang masih kecil akan cenderung memilih menitipkan anaknya. Baik itu pada pengasu, orangtua, saudara, tempat penitipan anak atau bahkan pada adik anda sendiri. Hal ini semata-mata membuat anda menyerahkan tanggung jawab pengawasan anak pada orang-orang yang anda pilih.

Akan tetapi, seberapa besar kepercayaan anda terhadap orang yang anda mintai tolong untuk menjaga dan mengasuh anak, tentu saja hal ini memiliki resiko. Hal ini dikarenakan, setiap orang memiliki pola asuh dan latar belakang asuhan sendiri-sendiri yang tentunya berbeda. Pengasuhan yang kita berikan terhadap buah hati kita jelas tidak akan sama persis dengan pengasuhan kakek-nenek, saudara, tetangga atau bahkan adik kandung kita sendiri.

Untuk itulah, sebelum kita sebagai orangtua memutuskan untuk memberikan tanggung jawab pengasuhan pada oranglain dengan menitipkan si buah hati, maka sebaiknya orangtua perlu memberikan penjelasan secara rinci mengenai detail pengasuhan anda terhadap si kecil ketika berada dirumah. Hal ini penting sekali dalam rangka menjalankan kewajiban dan tanggung jawab seutuhnya seperti sebagaimana anda jalankan sehari-hari pada si kecil.

Selain itu, menjaga ke konsistenan pola pengasuhan yang diberikan kepada si kecil, meskipun dilakukan oleh orang yang berbeda untuk menghindari kebingungan pola asuhan pada si kecil. Untuk itulah, hal ini penting anda jelaskan pada oranglain yang anda beirkan tanggung jawab untuk menjaga dan mengawasi buah hati anda.

Orang yang diberikan kewenangan dan tanggung jawab untuk mengawasi buah hati anda perlu tahu jadwal keseharian yang biasa anda berikan pada buah hati, seperti kapan anak anda makan, kapan anak anda berangkat ke sekolah, kapan waktunya mandi dan di jam berapa ia tidur. Dengan begini, selepas tanggung jawab pengasuh dan anda kembali mengambil alih tanggung jawab mengasuh si buah hati, maka anak anda akan berjalan dengan aturan yang sama.

Nah, selain beberapa hal diatas berikut ini juga ada poin-poin penting lain yang perlu anda pertimbangkan saat hendak menitipkan buah hati anda pada oranglain.

1. Carilah Orang yang Tepat

Mencari seseorang yang akan anda titipi buah hati perlu dipertimbangkan banyak hal. Bukan hanya asal melihat orang tersebut siap diberikan tanggung jawab ini. Anda juga perlu melihat situasi lain, seperti kekosongan waktunya, tanggung jawabnya terhadap pekerjaannya yang lain dan lain sebagainya. Hal ini penting sekali, untuk menjaga kenyamanan dan keamanan buah hati anda. Jangan sampai saat tetangga anda menyatakan siap untuk menjaga buah hati anda, namun ternyata ia pun memiliki banyak anak dirumahnya, atau mungkin tetangga anda adalah tipikal orang yang senang mengalihkan sebagian besar waktunya pada hobinya. Jika hal ini terjadi, bisa dibayangkan bagaimana keselamatan buah hati anda, jika tetangga anda yang diberikan tanggung jawab menjaga anak asik mengurus tanaman rumahnya.

Untuk itulah, pertimbangkan banyak hal dan carilah orang yang tepat yang memiliki waktu luang, senang dengan anak-anak dan sebisa mungkin adalah orang yang bisa anda percaya. Ingatlah mengasuh anak adalah tanggung jawab yang besar, untuk itu berikan tanggung jawab ini pada orang yang anda anggap bisa melakukannya.

2. Berikan Penjelasan Aturan yang Jelas dan Terperinci

Saat anda hendak menitipkan buah hati anda, maka berikan peraturan dan kebiasaan yang biasa anda lakukan bersama dengan si kecil setiap harinya. Hal ini perlu dijelaskan dengan jelas dan terperinci. Jika perlu, anda bisa menuliskan jadwal penting kegiatan si kecil. Misalkan jelaskan pada pengasuh kapan waktu anak anda makan, kapan waktunya mandi, sampai berapa waktu bermain dan kapan waktunya mengaji.

Meski anda berpikir bahwa hal ini akan sedikit berlebihan, namun pertimbangkan kembali semua peraturan yang sudah anda terapkan pada si kecil. Jangan sampai aturan-aturan penting ini hancur dan dilupakan oleh si buah hati, karena pola pengasuhan berbeda yang diberikan oleh orang yang mengasuh anak anda. Namun tentunya, anda bisa melakukan hal ini dengan perlahan agar orang yang dititipi anak anda bisa menyimak dan mendengarkan dengan seksama.

3. Berikan Alasan Mengapa Aturan Tersebut Harus Dijalankan

Hal ini penting sekali diberikan baik pada si pengaush maupun pada anak. Gunanya adalah untuk keseragaman aturan yang sudah dibuat terdahulu. Pada pengasuh gunanya adalah agar meskipun anda berada jauh dari anak, namun tanggung jawab dan peraturan yang sama yang anda buat bisa tetap disampaikan dan diterapkan. Sementara itu pada anak gunanya adalah agar anak perlahan mengerti dan paham hal apa yang boleh dan tidak boleh ia lakukan.

Misalkan, anda bisa memberitahu pada pengasuh agar membatasi waktu bermain si kecil, hal ini dikarenakan jika si anak terlalu banyak bermain, di malam hari ia malah akan malas untuk belajar, atau mungkin meminta si pengasuh untuk memastikan agar anak anda menggosok giginya sebelum tidur karena si anak memiliki keluhan sakit gigi. Sementara itu pada anak, buat si anak makan 3 kali sehari, karena jika tidak ia akan sakit atau bahkan kelaparan di malam hari.

4. Etika dalam Menitipkan

Meskipun anda menitipkan anak pada tetangga yang tak lain adalah teman anda sejak dulu atau mungkin anda menitipkan anak pada orangtua anda. Namun ingat, segala hal harus dilakukan dengan etika untuk menghindari pembicaraan negatif atau keluhan yang bisa membuat hubungan anda dengan orang tersebut menjadi buruk.

Ketika anda sudah selesai dengan pekerjaan anda dan melihat si anak anteng bermain atau bahkan merasa nyaman berada di tempat orang yang anda titipi, maka sebaiknya anda tidak lantas membiarkannya begitu saja dan merasa senang karena anda bisa bersantai dan beristirahat.

Hampiri anak anda dan ucapkan terimakasih pada tetangga atau orangtua anda. Jika kepergian anda memungkinkan anda membeli oleh-oleh, maka tidak ada salahnya memberikan mereka oleh-oleh sebagai bentuk rasa terimakasih anda atas kebaikan yang mereka lakukan. Atau jika anda membawa pengasuh, maka pastikan sedikitnya anda memperlakukan mereka dengan baik. Jika hubungan yang anda bina baik, maka kemungkinan dilain waktu ketika anda terpaksa harus menitipkan anak pada orang yang sama akan terasa aman.

Kesibukan memang seringkali membuat kita terpaksa untuk jauh dari buah hati dan membuat mereka harus diasuh oleh oranglain. Akan tetapi, poin penting dari hal ini adalah luangkan sebisa mungkin untuk tetap bertemu dan bercengkrama dengan buah hati anda agar hubungan erat anda bersama buah hati tetap terjaga.

Bunda, Si Kecil Pun Berhak Membela Dirinya, Ketahui Sikap yang Harus Dilakukan Orangtua

Posted: 19 Oct 2015 11:50 PM PDT

Bunda, apa yang biasanya bunda katakan pada si buah hati sata mereka disakiti atau dinakali oleh teman-temannya?

Ya, dunia anak adalah dunia bermain, bergembira bersama, tertawa riang, bermain berkelompok adalah hal yang amat disenangi anak-anak. Hal inilah yang akan membuat anak-anak ceria dan gembira. Tak pelak, wajah sumringah dan ekpresi bahagia seringkali tergambar di wajah si kecil saat mereka berada bersama dengan teman-temannya. Sampai senangnya, anak-anak akan merasa kehadiran orangtua yang mengawasi mereka membuat si anak merasa tak nyaman dan meminta kita untuk meninggal mereka bersama dengan teman-temannya.

Memang menyenangkan saat anak-anak bisa bermain dan ceria dengan teman-temanya. Hanya saja, waktu bermain dan kecerian ini hanya berlangsung beberapa menit dan tiba-tiba si anak akan pulang dengan wajah murung dan tangisan di wajahnya. Ketika ditanya apa penyebabnya, si anak akan menyatakan berbagai alasan mulai dari ditinggalkan oleh teman-temannya, dijauhi, dikatai atau bakan sampai disakiti. Nah, jika sudah begini tak jarang kita sebagai orangtua akan merasa khawatir dan kasihan terhadap si buah hati. Selain itu, ketika si anak bermasalah dengan teman-temannya, umumnya si anak akan cenderung rewel. Hal ini pun dipicu berbagai hal mulai dari si anak merasa bosan, kesepian dan lain sebagainya.

anak berhak membela diri

Bnayak orangtua yang melarang anak-anak mereka untuk melakukan "pembalasan" atas apa yang dilakukan oleh teman-temannya dan lebih memilih si anak untuk mengalah bila dipukul atau dinakali oleh teman atau sadudara-saudaranya. Hal ni tentu saja dimaksudkan untuk beberapa hal seperti menghindari pertengkaran yang lebih parah, mengajarkan anak untuk memaafkan dan bahkan membuat mereka belajar bagaimana mengalah. Bukan saja itu, ketika si kecil melakukan pembalasan dengan memukul, kita justru malah akan ketakutan bahwa perilaku ini tertanam dalam diri anak dan yang akhirnya justru si anaklah yang akan di cap sebagai anak nakal.

Namun bunda, tahukah anda. Sama halnya dengan orang dewasa, anak-anak pun memiliki hak untuk membela dirinya atau melakukan pembelaan diri ketika dirinya merasa dalam bahaya atau merasa hak-haknya dilanggar. Mudah melakukan pembalasan terhadap perbuatan anak nakal lain memang bukanlah perbuatan yang baik, akan tetapi terus-terusan mengalah pun, lebih tidak baik lagi. Apalagi dampak ini akan dirasakan anak saat mereka dewasa kelak.

Ketika anak terus-terusan diminta untuk mengalah, bukan tidak mungkin hal ini akan menumbuhkan pribadi dan karakter yang buruk pada anak, diantaranya adalah mental anak yang lemah, atau kemungkinan membaut mentalnya lebih keras dan menjadikan mereka seorang pemberontak. Hal ini tentunya muncul dikarenakan anak merasa tertekan akibat keluhannya tidak pernah didengarkan.

Selain itu, anak-anak yang tidak pernah diajarkan tentang harga diri atau self esteem bukan tidak mungkin akan melahirkan anak yang tumbuh menjadi anak-anak yang rendah diri, memiliki kepercaya dirian yang rendah, tidak percaya pada kemampuan yang dimilikinya, cengeng dan bahkan tumbuh menjadi seorang pengecut atau sebaliknya anak-anak akan cenderung menjadi pribadi yang egois, menindas anak-anak lemah, pembohong dan lain sebagainya.

Lantas seperti apa sih sikap yang bisa diberikan oleh orangtua saat anak-anak disakiti, dinakali atau bahkan dikerjai oleh teman-temannya? Nah, beberapa hal ini akan bisa anda terapkan pada si kecil.

Sikap yang Bisa Diberikan Orangtua Pada Si Kecil Dalam Rangka Membela Dirinya

1. Cari Tahu Penyebabnya

Ketika anda mendapati buah hati anda pulang dengan tangisan dan ekspresi murung di wajahnya, lantas ketika anda menanyakan apa alasannya, anak lalu menjawab dilatar belakangi karena pertengkaran bersama denga teman-temannya. Dari sini, maka jangan terburu untuk langsung memihak salah satu anak dan memarahi anak yang lain.

Sebaiknya, cari dan telaah terlebih dahulu apa penyebabnya. Untuk melakukan hal ini anda bisa mengajak anak pada teman-temannya dan menanyakan pada teman-temannya mengapa anak anda menangis. Setelah itu, lantas tanyakan pada anak betulkah demikian.

Dari sini anda akan dapat melihat masalah dari dua sudut pandang yang berbeda. Nah, ketika anda sudah tahu penyebab sebenarnya, maka anda bisa menentukan sendiri tindakan anda selanjutnya. Selain itu, cobalah untuk lebih terbuka jangan hanya karena anak anda menangis, anda lantas menyalahkan teman-teman si anak dan bersikap tidak adil.

2. Ajari Anak Untuk Berhitung

Ini adalah cara yang mudah untuk menumbuhkan harga diri pada anak, tanpa harus menjadikan si anak seorang anak nakal.

Tanamkan pada anak, jika ada saudara atau temannya yang mencubit, merebut mainan atau mengolok-oloknya, cegah anak agar tidak langsung marah dan membalas perbuatan temannya tersebut. Akan tetapi, tekankan pada buah hati anda untuk menghitung. Satu kali perbuatan buruk tersebut dilakukan pada anak anda, maka minta ia untuk mengalihkan diri atau menjauh. Dua kali, hal tersebut dilakukan, minta ia untuk diam namun tetaplah waspada. Jika dalam hitungan ketga, perilaku oranglain masih sama padanya, maka ia boleh untuk membalas perbuatan tersebut, satu kali saja, lantas minta mereka untuk pergi dan menjelaskan mengapa ia melakukan itu pada anda.

Dari sini, anak mungkin akan merasa takut jika "pembalasan" yang ia lakukan pada temannya akan dapat menuai protes dari orangtua si anak yang ia pukul. Akan tetapi, jika si anak sudah melakukan apa yang anda ajarkan dengan memberikan excuse pada temannya setelah beberapa kali melakukan hal buruk, maka bertahukan padanya untuk jangan takut.

Anak-anak berhak untuk membela dirinya, jika orangtua teman anak adalah orang yang bijak, maka mereka akan mengerti. Selain itu, pertengkaran anak hanyalah sebatas kekesalan, satu atau dua menit setelahnya anak-anak akan kembali akur dan berteman seperti sediakala.

3. Minta Anak Untuk Tenang dan Bersikap Sabar

Ketika anak marah dan kesal dengan perilaku temannya yang melakukan kenakalan padanya. Maka mintalah anak untuk lebih tenang, siapa tahu hal tersebut dilatar belakangi karena anak sedang dalam mood yang tidak baik.

Ketika anak lain kedapatan mencubit, memukul atau bahkan mendorong anak anda saat anak kita tidak melakukan kesalahan, maka lerai segera dan berikan pengertian dengan lembut terhadap temannya bahwa mereka adalah teman dan tidak seharusnya mereka saling mendorong atau bertengkar. Dengan begini si anak akan merasa dilindungi dan dihargai. Selain itu, berikan pemahaman pada anak untuk waspada agar ia tak menjadi bahan kenakalan anak lainnya.

Pertengkaran pada anak seringkali menjadi hal yang membuat orangtua pusing. Disamping itu juga, seringkali kita sebagai orangtua bingung untuk menentukan sikap seperti apa saat anak kita disakiti oleh teman-temannya. Alasan yang dituai dari masalah ini pun beragam, mulai dari menghindari pertengkaran, mengajarkan anak untuk mengalah sampai menjaga perasaan orangtua teman si anak.

Akan tetapi, tidak baik pula bila terus-terusan meminta si anak untuk mengalah karena hal ini akan berdampak pada kejiawaannya. Nah, cara-cara diatas bisa ibu terapkan pada si anak untuk dapat membela dirinya.

Title : Bidanku.com
Description : Bidanku.com Tips Membangun Komunikasi yang Baik dan Efektif Bersama dengan Buah Hati Ketika Ada ...

0 Response to "Bidanku.com"

Posting Komentar